JurnalLugas.Com — Kelompok pemberontak Houthi di Yaman kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah pada Jumat, 25 Juli 2025, mengumumkan peluncuran serangan terhadap sejumlah wilayah di Israel. Dalam pernyataan resminya, Houthi menyebut telah menembakkan rudal balistik hipersonik jenis Falasteen-2 ke arah Beersheba, sebuah kota strategis di bagian selatan Israel.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dalam siaran yang dipublikasikan melalui media milik kelompok tersebut, menyatakan bahwa rudal yang ditembakkan diarahkan ke lokasi yang disebutnya sebagai “situs sensitif.” Namun, Saree tidak merinci lebih jauh terkait dampak maupun target spesifik dari serangan tersebut.
Selain peluncuran rudal hipersonik, Saree juga mengungkapkan bahwa kelompoknya mengoperasikan drone dalam tiga misi terpisah. Sasaran drone tersebut meliputi wilayah Eilat, Ashkelon, dan Hadera kota-kota yang dikenal memiliki infrastruktur penting dan pelabuhan strategis.
“Operasi ini merupakan respons atas agresi yang terus berlangsung dan blokade terhadap rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza,” ujar Saree dalam pernyataannya.
Respons Militer Israel
Militer Israel melalui pernyataan singkat mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat satu rudal yang diluncurkan dari arah Yaman. Sirene peringatan sempat dibunyikan di wilayah Negev dan kawasan sekitar Laut Mati, menandakan kesiapsiagaan terhadap potensi ancaman lintas negara.
Sampai saat ini, belum ada laporan resmi dari otoritas Israel mengenai dampak langsung dari rudal yang diluncurkan oleh Houthi. Namun, situasi yang terjadi memperkuat kekhawatiran akan meluasnya konflik Timur Tengah ke luar wilayah Gaza.
Eskalasi Berlanjut dan Strategi Houthi
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dikenal kerap menunjukkan dukungan terbuka terhadap perjuangan rakyat Palestina. Sejak konflik antara Israel dan Hamas kembali memanas di Jalur Gaza, Houthi beberapa kali mengklaim telah melancarkan serangan terhadap instalasi militer dan pelabuhan Israel, serta terhadap kapal-kapal yang memiliki afiliasi dengan negara tersebut.
Pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, dalam pidatonya pada Kamis lalu, menyampaikan bahwa pihaknya telah mempersiapkan operasi tambahan sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza. Ia mengklaim bahwa serangan sebelumnya menggunakan total 11 unit drone dan rudal hipersonik yang dikembangkan secara lokal.
“Blokade terhadap kapal-kapal yang menuju Israel masih terus berlanjut,” ungkap al-Houthi. Ia juga menyebut bahwa pelabuhan Eilat, salah satu jalur logistik utama Israel di Laut Merah, telah “sepenuhnya ditutup,” yang menurutnya merupakan kerugian besar bagi pihak lawan.
Al-Houthi juga menambahkan bahwa pihaknya tidak akan menghentikan serangan selama “penindasan terhadap rakyat Palestina masih terjadi.”
Konteks Global dan Kekhawatiran Internasional
Serangan Houthi terhadap Israel tidak hanya menambah daftar panjang konflik bersenjata di Timur Tengah, tetapi juga memperkuat kekhawatiran akan terjadinya perang regional yang lebih luas. Dukungan Houthi terhadap Palestina dan konfrontasi terbuka dengan Israel menempatkan Yaman sebagai salah satu aktor regional yang kini diperhitungkan dalam dinamika geopolitik kawasan.
Pengamat Timur Tengah mencatat bahwa penggunaan rudal hipersonik oleh Houthi menandai eskalasi signifikan dalam kemampuan militer kelompok tersebut. Meskipun belum ada bukti independen yang mengonfirmasi efektivitas atau akurasi dari rudal Falasteen-2, kehadirannya saja cukup untuk meningkatkan ketegangan dan risiko konflik langsung dengan kekuatan besar.
Blokade Laut dan Gangguan Jalur Ekspor
Houthi juga mengklaim terus melakukan blokade terhadap jalur pelayaran yang mengarah ke pelabuhan-pelabuhan Israel. Operasi ini disebut-sebut berdampak pada aktivitas pelayaran di Laut Merah dan Teluk Aden, serta menghambat pengiriman logistik ke kawasan Israel selatan.
Menurut pengakuan kelompok tersebut, pelabuhan Eilat yang sebelumnya menjadi pintu masuk utama bagi ekspor dan impor kini tidak lagi beroperasi secara normal. Pernyataan ini tentu menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas perdagangan regional, khususnya terkait pengamanan jalur pelayaran internasional yang melewati Terusan Suez dan Laut Merah.
Potensi Balasan dan Arah Konflik Selanjutnya
Sejauh ini, pihak Israel belum mengumumkan langkah balasan atas serangan terbaru Houthi. Namun, para analis militer memperkirakan bahwa Israel tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman dari kawasan selatan, terlebih jika benar rudal yang digunakan Houthi telah mencapai kapasitas hipersonik dengan kecepatan dan manuver sulit dideteksi.
Sementara itu, komunitas internasional menyerukan agar semua pihak menahan diri untuk menghindari perluasan konflik. Meski demikian, realita di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan justru terus meningkat, seiring berlanjutnya konflik di Gaza dan keterlibatan aktor-aktor non-negara seperti Houthi dalam skenario yang semakin kompleks.
Aksi militer Houthi terhadap Israel menjadi babak baru dalam konflik regional yang terus membara di Timur Tengah. Dengan penggunaan rudal hipersonik dan pengoperasian drone di berbagai wilayah strategis, kelompok ini menunjukkan bahwa mereka bukan hanya kekuatan lokal di Yaman, tetapi juga pemain aktif dalam percaturan politik dan militer kawasan.
Seluruh perkembangan ini berpotensi membawa dampak signifikan, baik bagi stabilitas regional maupun bagi upaya diplomatik internasional yang tengah dilakukan untuk meredam eskalasi konflik.
Sumber informasi dan update lengkap lainnya tersedia di JurnalLugas.Com.






