JurnalLugas.Com – Situasi geopolitik Timur Tengah kembali memanas. Pemimpin kelompok Houthi di Yaman, Abdulmalik al-Houthi, menyatakan dukungan penuh kepada Iran dan menegaskan kesiapan kelompoknya menghadapi segala kemungkinan eskalasi kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato yang ditayangkan melalui saluran televisi resmi milik Houthi pada Sabtu (28/2) malam waktu setempat. Dalam siaran itu, Abdulmalik menekankan bahwa pihaknya “siap sepenuhnya menghadapi perkembangan apa pun” menyusul dinamika terbaru di kawasan.
Seruan Aksi Massa di Sanaa dan Sejumlah Provinsi
Dalam pidatonya, Abdulmalik mengajak para pendukungnya untuk menggelar demonstrasi besar-besaran pada Minggu (1/3) di Sanaa serta berbagai provinsi lain yang berada di bawah kendali Houthi.
Ia meminta warga Yaman turun ke jalan sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran. Menurutnya, aksi tersebut merupakan respons atas apa yang ia sebut sebagai “agresi terbuka Amerika Serikat dan Israel.”
Seruan ini diprediksi akan memicu mobilisasi massa dalam jumlah besar, mengingat Houthi memiliki basis dukungan signifikan di wilayah Yaman utara.
Klaim Agresi AS-Israel terhadap Iran
Dalam pernyataannya, Abdulmalik menyinggung serangan gabungan yang disebutnya melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai bagian dari konflik regional yang lebih luas.
Menurut Abdulmalik, solidaritas terhadap Iran bukan sekadar sikap politik, melainkan “kewajiban moral dan keagamaan.” Ia mengklaim Iran tengah berada dalam posisi menghadapi tekanan besar yang berdampak pada stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, belum ada pernyataan resmi independen yang mengonfirmasi rincian serangan yang dimaksud dalam pidato tersebut.
Posisi Strategis Houthi di Yaman
Kelompok Houthi telah menguasai Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman utara sejak akhir 2014. Sejak saat itu, konflik berkepanjangan menjadikan Yaman sebagai salah satu titik panas geopolitik di kawasan.
Kontrol teritorial Houthi memberi kelompok tersebut pengaruh signifikan dalam percaturan politik domestik maupun dinamika regional. Dukungan terbuka terhadap Iran juga semakin menegaskan posisi Houthi dalam poros perlawanan yang selama ini menjadi narasi politik mereka.
Dampak terhadap Stabilitas Kawasan
Pengamat menilai pernyataan Abdulmalik berpotensi meningkatkan ketegangan regional, terutama jika aksi massa berkembang menjadi tekanan politik atau langkah militer lanjutan.
Eskalasi konflik yang melibatkan aktor-aktor utama seperti AS, Israel, dan Iran berisiko meluas, dengan Yaman sebagai salah satu titik strategis yang dapat terdampak secara langsung maupun tidak langsung.
Perkembangan situasi ini masih terus dipantau oleh berbagai pihak, mengingat dinamika kawasan yang sangat cepat berubah dan sensitif terhadap pernyataan politik tingkat tinggi.
Ikuti perkembangan berita internasional terkini dan analisis mendalam lainnya hanya di JurnalLugas.Com
(SF)






