Harga Minyak Dunia Anjlok Jelang Tarif Trump 1 Agustus Pasar Global Ketar-Ketir

JurnalLugas.Com – Harga minyak mentah global kembali tertekan menjelang tenggat kebijakan tarif baru yang akan diberlakukan Amerika Serikat (AS) pada 1 Agustus 2025. Pasar minyak kini berada dalam posisi waspada karena kebijakan tersebut berpotensi memicu perlambatan perdagangan dan mengganggu permintaan energi dunia.

Penurunan Harga Minyak

Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman September tercatat turun 0,97% menjadi US\$72,53 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) anjlok 1,06% ke US\$69,26 per barel.

Bacaan Lainnya

Penurunan harga ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap efek domino tarif baru AS yang berpotensi menekan konsumsi minyak global. Selain itu, lonjakan stok minyak mentah AS hingga 7,7 juta barel dalam sepekan terakhir turut membebani pasar, meski stok bensin mengalami penurunan signifikan akibat tingginya permintaan musim panas.

Tarif Trump yang Mengguncang Pasar

Pemerintah AS menegaskan bahwa negara-negara yang belum mencapai kesepakatan dagang akan dikenai tarif mulai 1 Agustus 2025. Beberapa mitra utama seperti Meksiko mendapat perpanjangan waktu negosiasi selama 90 hari. Namun, sejumlah produk impor dari Meksiko, seperti baja dan tembaga, tetap akan dikenakan tarif hingga 50%.

Baca Juga  Obat Impor Bakal Kena Tarif 200% Trump Perusahaan Harus Pindah ke AS

Kebijakan ini tidak hanya memicu ketegangan dagang, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian pasokan minyak global. Ancaman tarif sekunder terhadap negara-negara pembeli minyak Rusia dengan besaran hingga 100% dan waktu tenggat 10–12 hari membuat investor semakin hati-hati.

Faktor Geopolitik Memperparah Sentimen

Selain faktor tarif, sentimen pasar juga ditekan oleh gejolak geopolitik. Brasil dikabarkan menunda pengiriman minyak ke AS akibat ketidakjelasan kebijakan perdagangan. Sementara itu, AS juga mengancam akan memberikan sanksi kepada India dan China jika tidak mengurangi pembelian minyak dari Rusia.

Situasi ini menambah lapisan ketidakpastian di pasar energi, membuat pergerakan harga cenderung stagnan dalam beberapa hari terakhir.

Likuiditas dan Volatilitas Menurun

Sejumlah analis mencatat bahwa volatilitas pasar minyak belakangan ini semakin rendah, seiring investor memilih menunggu kejelasan kebijakan tarif AS sebelum mengambil langkah besar. Likuiditas yang menurun juga membuat pergerakan harga tidak seagresif biasanya, meski tensi geopolitik meningkat.

Ringkasan Faktor Tekanan Harga Minyak

Faktor UtamaDampak ke Pasar Minyak
Kebijakan tarif baru ASTekan permintaan global, ciptakan ketidakpastian pasokan
Ancaman tarif sekunderBatasi pasar pembeli minyak Rusia, risiko harga naik di masa depan
Lonjakan stok minyak mentah ASTekan harga akibat pasokan berlebih
Gejolak geopolitikGanggu jalur distribusi minyak global
Volatilitas rendahPasar stagnan, investor menunggu kejelasan kebijakan

Prospek Harga Minyak ke Depan

Pasar minyak global akan tetap bergejolak dalam jangka pendek. Jika tarif baru AS resmi berlaku penuh tanpa kelonggaran tambahan, harga minyak berpotensi turun lebih dalam akibat kekhawatiran permintaan yang melemah.

Baca Juga  AS Klaim Kuasai Masa Depan Venezuela Usai Maduro Ditangkap, Rusia Langsung Angkat Suara

Namun, jika ketegangan geopolitik terkait pasokan dari Rusia, Brasil, atau Timur Tengah meningkat, harga minyak justru bisa kembali melonjak. Investor disarankan memantau perkembangan negosiasi dagang AS dan mitra utamanya sebagai indikator arah pasar.

Jelang tenggat tarif baru AS pada 1 Agustus 2025, harga minyak mentah global menghadapi tekanan dari berbagai faktor, mulai dari kebijakan tarif, stok minyak AS yang meningkat, hingga ketegangan geopolitik. Pasar masih menunggu kepastian kebijakan untuk menentukan arah harga berikutnya.

Untuk berita ekonomi dan energi terkini, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait