JurnalLugas.Com — PT Timah Tbk (TINS), produsen timah terbesar di Indonesia, mencatat penurunan kinerja signifikan pada semester pertama 2025. Laba bersih perusahaan anjlok sekitar 30,9% menjadi Rp 300,07 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 434,46 miliar.
Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya ekspor dan turunnya volume produksi, meski harga timah global justru mengalami kenaikan.
Pendapatan Tertekan Penurunan Penjualan
Pendapatan usaha TINS pada paruh pertama 2025 mencapai Rp 4,22 triliun, turun sekitar 19% dari Rp 5,21 triliun di semester I 2024. Penjualan terbesar tetap berasal dari logam timah yang menyumbang Rp 3,2 triliun, disusul tin chemical sebesar Rp 473,5 miliar dan tin solder senilai Rp 170,7 miliar.
Penurunan pendapatan terjadi seiring berkurangnya volume penjualan logam timah hingga 28% menjadi 5.983 ton. Dari jumlah tersebut, 92% dialokasikan untuk pasar ekspor, sementara penjualan domestik hanya berkontribusi 8%.
Produksi Mengalami Kontraksi
Kinerja produksi PT Timah juga tidak secerah tahun sebelumnya. Produksi bijih timah turun 32% menjadi 6.997 ton Sn, sementara produksi logam timah merosot 29% menjadi 6.870 ton.
Kondisi ini disebabkan berbagai faktor, termasuk berkurangnya pasokan bijih dari penambangan rakyat, faktor cuaca yang mempengaruhi operasional, serta pengetatan aturan penambangan ilegal yang membatasi pasokan liar ke pasar resmi.
Margin Laba Turun
Meski beban pokok pendapatan berkurang 15,6%, margin laba kotor (gross margin) tetap melemah dari 23,3% menjadi 20%. Laba usaha tercatat Rp 380 miliar, sementara EBITDA berada di angka Rp 838 miliar — keduanya terkoreksi sekitar 31% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi neraca keuangan, total aset perusahaan per 30 Juni 2025 tercatat Rp 12,33 triliun, turun dari posisi akhir tahun lalu. Liabilitas menyusut menjadi Rp 5,03 triliun, sedangkan ekuitas berada di Rp 7,29 triliun. Kas dan setara kas juga terpangkas menjadi Rp 1,81 triliun akibat arus kas operasi yang melemah 47,3% menjadi Rp 468,8 miliar.
Harga Timah Global Menguat
Menariknya, harga timah di pasar internasional justru mengalami penguatan. Sepanjang semester I 2025, harga rata-rata berada pada kisaran USD 32.100 – USD 32.800 per ton, naik antara 8% hingga 9,6% dibanding tahun lalu.
Sayangnya, kenaikan harga ini belum mampu mengompensasi turunnya volume penjualan yang berdampak signifikan terhadap pendapatan.
Strategi Perusahaan Menatap Semester II 2025
Manajemen PT Timah menyatakan akan fokus pada sejumlah langkah strategis untuk memulihkan kinerja di sisa tahun ini, di antaranya:
- Peningkatan Produksi
Mengoptimalkan produksi bijih timah baik dari tambang darat maupun laut, termasuk memaksimalkan armada kapal isap produksi (KIP) dan peralatan bor pandu. - Pengamanan IUP
Memperkuat pengawasan wilayah izin usaha pertambangan (IUP) untuk mencegah penambangan ilegal yang selama ini mengganggu pasokan resmi. - Efisiensi Biaya
Melanjutkan program efisiensi biaya operasional dan restrukturisasi pembiayaan berbunga untuk menjaga kesehatan arus kas. - Target Produksi Tahunan
Mempertahankan target produksi 21.500 ton bijih timah dan 21.545 ton logam timah, dengan penjualan logam sekitar 19.065 ton hingga akhir tahun.
Meskipun tantangan global seperti perlambatan permintaan dan fluktuasi harga komoditas masih membayangi, prospek semester II 2025 dinilai lebih positif. Kenaikan harga timah dunia, jika diiringi peningkatan produksi dan efisiensi, diharapkan dapat membantu memulihkan laba perusahaan.
Namun, keberhasilan strategi tersebut akan sangat bergantung pada pengendalian pasokan, kondisi cuaca, serta kestabilan permintaan di pasar ekspor utama seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Belanda, Italia, dan India.
PT Timah menghadapi paruh pertama 2025 dengan tekanan cukup berat akibat anjloknya ekspor dan penurunan produksi. Meski begitu, peluang perbaikan tetap terbuka lebar pada semester kedua melalui strategi efisiensi, penguatan produksi, serta pemanfaatan tren kenaikan harga timah global.
Untuk pembaruan berita ekonomi, keuangan, dan industri lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






