JurnalLugas.Com – Harga minyak mentah dunia tertekan pada perdagangan akhir pekan, Jumat (1/8/2025), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap lonjakan pasokan dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC+) serta lemahnya data tenaga kerja Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data perdagangan terkini, kontrak berjangka Brent crude ditutup di posisi USD 69,67 per barel, anjlok USD 2,03 atau -2,83 persen dibanding sehari sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah USD 1,93 atau -2,79 persen menjadi USD 67,33 per barel.
Penurunan ini sekaligus memutus reli kenaikan harga dalam beberapa sesi sebelumnya. Meski begitu, secara mingguan, Brent masih mencatat penguatan hampir 6 persen dan WTI naik sekitar 6,29 persen.
Lonjakan Produksi OPEC+ Jadi Pemicu Utama
Pasar minyak global terguncang setelah muncul kabar bahwa OPEC+ akan menaikkan produksi secara signifikan mulai September 2025. Menurut sumber internal, aliansi produsen minyak itu mempertimbangkan penambahan produksi hingga 548.000 barel per hari (bph), melanjutkan kebijakan kenaikan bertahap sejak April lalu.
Langkah ini diambil setelah beberapa anggota OPEC+ menilai harga minyak dunia sudah cukup stabil, sehingga ada ruang untuk memperluas pangsa pasar. Namun, keputusan ini dikhawatirkan memicu surplus pasokan yang justru menekan harga di tengah pertumbuhan permintaan yang melambat.
“Jika penambahan produksi ini terealisasi, pasar akan kebanjiran pasokan di saat permintaan global belum sepenuhnya pulih,” ujar seorang analis pasar energi internasional yang enggan disebut namanya.
Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan Pasar
Selain faktor pasokan, harga minyak juga tertekan oleh rilis data tenaga kerja AS yang menunjukkan pelemahan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan hanya terjadi penambahan 73.000 lapangan kerja pada Juli 2025, jauh di bawah perkiraan pasar. Tingkat pengangguran pun naik menjadi 4,2 persen.
Lemahnya data ini memicu kekhawatiran bahwa ekonomi AS – sebagai konsumen minyak terbesar dunia – sedang melambat. Dampaknya, permintaan energi berpotensi menurun, yang secara otomatis menjadi sentimen negatif bagi harga minyak.
Ketidakpastian Tarif Impor AS Menambah Tekanan
Kebijakan tarif impor yang belum jelas arahnya dari pemerintahan AS semakin memperburuk sentimen pasar. Menjelang tenggat 1 Agustus 2025, Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan penerapan tarif baru pada sejumlah negara mitra dagang utama, termasuk India dan Taiwan.
Kebijakan ini berpotensi mengganggu arus perdagangan global, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan akhirnya menurunkan konsumsi energi. Analis menilai, ketidakpastian kebijakan perdagangan ini membuat investor cenderung menahan diri.
Risiko Geopolitik Masih Membayangi
Meski harga saat ini cenderung melemah, risiko geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar. Iran kembali mengancam akan menutup Selat Hormuz jika sanksi AS terhadap ekspor minyak mereka tidak dicabut. Selat ini merupakan jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Pada Juni lalu, ketegangan serupa sempat membuat harga minyak melonjak lebih dari 11 persen dalam satu pekan. Namun, pasar tampaknya menilai ancaman kali ini belum cukup kuat untuk memicu kenaikan harga signifikan, setidaknya hingga benar-benar ada gangguan pasokan.
Proyeksi Harga Minyak Dunia
Survei terbaru Reuters terhadap 37 analis memproyeksikan harga Brent akan rata-rata berada di kisaran USD 67,84 per barel pada 2025, sementara WTI di kisaran USD 64,61 per barel. Untuk kuartal kedua 2026, harga Brent diperkirakan turun menjadi sekitar USD 62,98 per barel.
Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent di paruh kedua tahun ini akan berada di sekitar USD 66 per barel, dengan potensi melonjak hingga USD 90 per barel jika pasokan Iran terganggu. Namun, dalam skenario resesi global, harga bisa anjlok hingga mendekati USD 40 per barel.
Dampak bagi Negara Pengimpor dan Konsumen
Bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, penurunan harga di bawah USD 70 per barel memberi peluang untuk menekan biaya impor dan mengurangi tekanan pada neraca perdagangan. Namun, fluktuasi nilai tukar rupiah serta ketidakpastian global tetap menjadi risiko bagi stabilitas harga BBM domestik.
Bagi konsumen di dalam negeri, harga minyak dunia yang melemah biasanya memberi harapan penurunan harga BBM. Namun, realisasinya tergantung pada kebijakan pemerintah dan mekanisme penetapan harga BBM yang mempertimbangkan banyak faktor.
Kinerja Raksasa Migas Dunia
Di tengah tren penurunan harga, dua raksasa minyak dunia Exxon Mobil dan Chevron tetap mencatat kinerja positif pada kuartal kedua 2025. Exxon membukukan laba sebesar USD 7,08 miliar, sementara Chevron meraih USD 2,49 miliar. Kinerja ini didorong oleh produksi yang tinggi serta efisiensi operasional, meski margin keuntungan tertekan.
Kedua perusahaan juga terus memperluas investasi di sektor energi baru dan proyek eksplorasi di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, untuk mengantisipasi perubahan tren energi global.
Analisis Teknis Harga Minyak
Secara teknikal, zona USD 65 – USD 70 per barel menjadi area kunci yang menentukan arah harga jangka pendek. Jika harga menembus di bawah USD 65, tren bearish berpotensi menguat dan membawa harga menuju kisaran USD 62 – USD 63. Sebaliknya, penembusan di atas USD 70 dapat memicu reli menuju USD 73 – USD 75 per barel.
Investor disarankan memantau hasil pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan awal pekan depan, karena keputusan organisasi ini kerap menjadi pemicu utama pergerakan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah dunia pada 2 Agustus 2025 berada di bawah tekanan, dipicu oleh kombinasi lonjakan pasokan OPEC+, lemahnya data tenaga kerja AS, ketidakpastian kebijakan tarif impor, serta risiko geopolitik yang belum mereda. Meski proyeksi harga ke depan cenderung moderat, volatilitas tinggi masih akan menjadi ciri khas pasar minyak dalam beberapa bulan mendatang.
Bagi pelaku pasar dan konsumen, perkembangan harga minyak dunia perlu dipantau secara seksama, mengingat dampaknya yang luas terhadap ekonomi global, inflasi, dan daya beli masyarakat.
Sumber berita dan analisis lebih lanjut kunjungi: JurnalLugas.Com






