JurnalLugas.Com — Harga minyak dunia melonjak sekitar satu dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa waktu setempat. Kenaikan ini dipicu oleh dampak sanksi terbaru Washington terhadap ekspor minyak Rusia, di tengah sinyal positif terkait berakhirnya kebuntuan anggaran pemerintah AS.
Menurut data perdagangan terkini, harga minyak mentah Brent naik USD1,10 atau 1,72 persen menjadi USD65,16 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan 91 sen atau 1,51 persen ke posisi USD61,04 per barel.
Pengaruh Sanksi AS dan Reaksi Pasar Global
Investor global masih mencerna dampak dari sanksi AS terhadap sektor energi Rusia. Langkah tersebut memperketat arus pasokan minyak mentah di pasar internasional, terutama setelah Lukoil Rusia mengumumkan kondisi force majeure di ladang minyak Irak yang mereka kelola.
“Situasi ini menjadi pukulan terbesar terhadap produksi Rusia sejak sanksi diterapkan bulan lalu,” ujar seorang analis energi yang dikutip media internasional.
Sanksi ini memperkuat kekhawatiran akan gangguan rantai pasok global, meski sebagian analis menilai kenaikan harga masih akan dibatasi oleh potensi kelebihan pasokan dari Timur Tengah.
Negara Teluk Siap Tambah Pasokan ke Asia
Seiring ketegangan tersebut, produsen utama kawasan Teluk—Arab Saudi, Irak, dan Kuwait—dilaporkan akan meningkatkan pasokan minyak mentah ke India pada Desember mendatang. Langkah ini diambil karena perusahaan penyulingan India mencari sumber alternatif untuk menggantikan minyak asal Rusia.
OPEC+ Sepakat Tambah Produksi
Dari sisi kebijakan produksi, OPEC+ baru-baru ini menyetujui kenaikan target produksi minyak untuk Desember sebesar 137 ribu barel per hari. Namun, organisasi tersebut juga memutuskan untuk menunda peningkatan tambahan pada kuartal pertama 2026.
OPEC+, yang mencakup anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia, telah menambah pasokan sekitar dua juta barel per hari sejak April lalu. Kelompok ini kemungkinan akan melanjutkan langkah hati-hati, mempertimbangkan keseimbangan antara pasokan dan permintaan global.
Optimisme dari Washington
Dari Amerika Serikat, pasar turut mendapat dorongan positif dari kabar bahwa penutupan pemerintahan (government shutdown) terpanjang dalam sejarah negara itu berpotensi segera berakhir. Senat AS dikabarkan telah menyetujui kesepakatan kompromi yang memungkinkan pendanaan federal kembali berjalan.
Kabar ini menambah sentimen optimis di pasar energi, karena berakhirnya krisis politik di Washington dapat memperkuat stabilitas ekonomi global dan meningkatkan permintaan energi.
Sumber berita & analisis ekonomi terkini lainnya dapat diakses di JurnalLugas.Com






