JurnalLugas.Com – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan menerbitkan instrumen baru bernama Obligasi Patriot senilai Rp50 triliun pada 1 Oktober 2025. Langkah ini diyakini menjadi katalis penting bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor waste-to-energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi.
Obligasi ini dibagi menjadi dua seri, masing-masing senilai Rp25 triliun, dengan tenor 5 tahun dan 7 tahun. Menariknya, kupon yang ditawarkan hanya 2 persen, jauh lebih rendah dibandingkan obligasi pemerintah dengan tenor sejenis yang berkisar 6 persen.
Skema Private Placement dengan Dukungan Konglomerat
Dengan tingkat kupon yang rendah, penerbitan Obligasi Patriot tidak ditawarkan ke publik luas, melainkan melalui skema private placement yang menyasar pemimpin bisnis nasional.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyebut penerbitan ini sebagai instrumen strategis yang lazim digunakan di negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. “Tujuannya adalah memperkuat kemandirian pembiayaan nasional, sekaligus mendukung proyek transisi energi,” ungkapnya.
Langkah Danantara ini juga mendapat dukungan sejumlah konglomerat papan atas, di antaranya Prajogo Pangestu, Franky Widjaja, dan Boy Thohir.
Fokus pada Proyek Waste-to-Energy
Meski secara resmi Danantara menyebut dana hasil penerbitan akan digunakan untuk mendukung proyek transisi energi, sumber industri menyebut sebagian besar dana akan dialokasikan pada proyek waste-to-energy (WTE).
Sentimen ini semakin menguat setelah Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa Peraturan Presiden (Perpres) terkait WTE akan segera terbit dalam satu hingga dua hari ke depan.
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025, proyek pengolahan sampah menjadi energi ramah lingkungan akan tersebar di 12 kota besar, termasuk Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Makassar, dengan target kapasitas mencapai 453 MW hingga 2034.
Dampak Positif pada Pasar Saham
Rencana penerbitan Obligasi Patriot langsung memicu sentimen positif di pasar modal, terutama pada saham-saham yang berkaitan dengan sektor WTE.
Dalam riset yang dirilis pada Selasa (26/8/2025), analis pasar menilai, “Rencana penerbitan obligasi ini memberikan sentimen positif kepada emiten-emiten dengan eksposur WTE dan ekosistemnya seperti TOBA dan OASA.”
Dampaknya langsung terasa di bursa. Saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melesat hingga 17,90 persen, sementara PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA) menguat 24,27 persen pada perdagangan hari yang sama.
Ekspansi Emiten WTE
Kedua perusahaan tersebut memang gencar memperluas bisnisnya di sektor energi ramah lingkungan.
- TOBA sebelumnya telah menyelesaikan akuisisi Sembcorp Environment pada Maret 2025, sebuah perusahaan pengelola limbah rumah tangga di Singapura. Langkah ini memperkuat posisinya dalam rantai bisnis pengelolaan sampah.
- OASA sedang menjajaki kerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Cipeucang, Serpong. Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp1,69 triliun ini diproyeksikan memiliki kapasitas listrik 15,7 MW.
Prospek Energi Bersih Nasional
Jika berhasil, Obligasi Patriot berpotensi menjadi model pembiayaan baru dalam mendukung percepatan transisi energi nasional. Selain memperkuat investasi domestik, instrumen ini juga diharapkan dapat menekan ketergantungan pada pembiayaan eksternal.
Para pengamat menilai, momentum ini akan menjadi langkah penting dalam mempercepat pengembangan energi terbarukan berbasis sampah, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru di sektor hijau.
Sumber berita terbaru lainnya bisa dibaca di JurnalLugas.Com.






