JurnalLugas.Com – Harga minyak global kembali melemah pada perdagangan terakhir pekan lalu. Tekanan datang dari melemahnya data ekonomi Amerika Serikat, lonjakan stok minyak, serta rencana peningkatan produksi dari negara-negara anggota OPEC dan sekutunya.
Minyak mentah Brent ditutup turun lebih dari 2 persen ke kisaran USD 65,50 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) anjlok hingga USD 61,87 per barel. Penurunan ini menandai tren bearish yang semakin nyata dalam beberapa pekan terakhir.
Permintaan Energi Lesu dari Amerika Serikat
Indikator ekonomi terbaru menunjukkan penambahan lapangan kerja di AS hanya sekitar 22 ribu, jauh di bawah proyeksi pasar. Aktivitas manufaktur pun masih terkontraksi selama enam bulan berturut-turut. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa konsumsi energi di negara pengguna minyak terbesar dunia akan melemah.
Ancaman Pasokan Berlebih dari OPEC+
Pasar juga tengah menanti keputusan OPEC+ terkait kebijakan produksi. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa kelompok tersebut mempertimbangkan peningkatan suplai dalam jumlah signifikan. Seorang analis energi global menilai langkah ini menandakan produsen besar, terutama di kawasan Timur Tengah, lebih fokus mengejar pangsa pasar ketimbang menjaga keseimbangan harga.
Stok dan Produksi Minyak AS Naik
Data terbaru menunjukkan cadangan minyak mentah AS bertambah 2,4 juta barel, berlawanan dengan perkiraan yang memprediksi penurunan. Di sisi lain, produksi minyak mentah AS masih bertahan di level rekor, lebih dari 13,5 juta barel per hari. Kombinasi stok tinggi dan output besar ini mempertebal kekhawatiran akan kelebihan pasokan global.
Analisis Teknikal: Tren Bearish Kian Kuat
Dari sisi teknikal, harga WTI sudah menembus di bawah rata-rata pergerakan 52 pekan (MA-52 week) di level USD 63,40. Saat ini, support terdekat berada di USD 61,12, yang jika ditembus berpotensi mendorong harga ke area USD 56,09. Sementara itu, resistance jangka pendek ada di kisaran USD 66,03.
Ringkasan Faktor Penekan Harga Minyak
| Faktor | Dampak |
|---|---|
| Permintaan AS melemah | Menurunkan prospek konsumsi energi |
| Pasokan OPEC+ naik | Menambah risiko oversupply global |
| Stok AS meningkat | Tekanan tambahan dari sisi fundamental |
| Teknis menurun | Harga di bawah rata-rata jangka panjang, tren bearish semakin dominan |
Gabungan antara melemahnya permintaan, potensi tambahan pasokan OPEC+, serta tingginya stok dan produksi minyak AS membuat harga minyak dunia rawan melemah lebih dalam. Pasar kini menunggu hasil pertemuan produsen minyak besar serta rilis data ekonomi global berikutnya sebagai penentu arah harga dalam jangka pendek.
Untuk berita ekonomi dan energi terbaru lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






