JurnalLugas.Com – Harga minyak mentah dunia mencatat penurunan mingguan paling tajam sejak Maret 2023, setelah amblas hingga 12 persen. Pelemahan ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik menyusul pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Iran, yang secara efektif menghapus premi risiko yang sempat mengerek harga ke atas USD80 per barel.
Namun demikian, perdagangan pada Jumat (28/6) lalu ditutup menguat. Aksi beli di akhir sesi didorong oleh kondisi teknikal oversold dan aksi short covering setelah pelemahan selama sepekan penuh, sebagaimana dilaporkan FXEmpire.
Harga minyak sempat jatuh mendekati rata-rata pergerakan 200 hari (MA-200) di kisaran USD65,15, turun tajam dari level puncak akibat eskalasi konflik Timur Tengah. Bahkan sebelum kabar OPEC+ dirilis, tren pelemahan sudah terbentuk pasca diumumkannya gencatan senjata oleh Presiden AS, Donald Trump.
Produksi OPEC+ Naik, Pasar Makin Tertekan?
Pada Jumat, sentimen pasar kembali diguncang oleh laporan dari empat delegasi OPEC+ yang menyatakan bahwa blok produsen minyak tersebut sepakat menaikkan produksi sebesar 411.000 barel per hari mulai Agustus mendatang. Informasi ini sempat membuat harga kembali tergelincir sebelum akhirnya ditutup menguat di akhir sesi.
Analis Price Futures Group, P. Flynn, menilai reaksi pasar cukup spontan. “Begitu laporan peningkatan produksi OPEC keluar, harga langsung anjlok,” ujarnya menggambarkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan berlebih.
Langkah OPEC+ ini dinilai mencerminkan optimisme terhadap pulihnya permintaan global. Namun, sejumlah analis mempertanyakan kemampuan pasar menyerap pasokan tambahan dalam waktu dekat, terlebih di tengah volatilitas tinggi.
Sinyal Permintaan Masih Kuat
Dari sisi permintaan, China tercatat melakukan pembelian minyak dalam volume besar dari Iran. Data Vortexa menunjukkan rata-rata impor sebesar 1,8 juta barel per hari pada periode 1–20 Juni. Menariknya, pembelian ini terjadi bahkan sebelum konflik Israel-Iran dimulai, mengindikasikan kekuatan permintaan yang mendasari.
Inventori global juga menunjukkan sinyal bullish. Pemerintah AS melaporkan penurunan stok minyak mentah dan bahan bakar akibat peningkatan aktivitas kilang. Di kawasan Amsterdam-Rotterdam-Antwerp, cadangan gasoil independen turun ke level terendah dalam setahun. Sedangkan di Singapura, stok distilat menengah ikut menyusut.
“Kita mulai melihat premi permintaan pada harga minyak,” tambah Flynn. Ia menilai bahwa tren penurunan stok bisa menjadi fondasi pemulihan harga dalam jangka pendek.
Risiko Geopolitik Mereda
Konflik militer antara Israel dan Iran yang berlangsung selama 12 hari sempat memicu lonjakan harga minyak Brent hingga melampaui USD80. Namun, pengumuman gencatan senjata dari Presiden Trump langsung menyapu bersih premi risiko tersebut.
“Pasar kini nyaris sepenuhnya mengabaikan risiko geopolitik dan kembali fokus pada fundamental,” ungkap J. Shah, analis dari Rystad Energy.
Sementara itu, jumlah rig pengeboran minyak di AS terus menurun selama empat bulan berturut-turut, menyentuh 432 unit level terendah sejak Oktober 2021. Ini menunjukkan perlambatan produksi dari sisi pasokan non-OPEC.
Potensi Rebound atau Lanjut Turun?
Kondisi harga yang bertahan di atas MA-200 menandakan potensi pembalikan arah (rebound), apalagi dengan munculnya aksi beli pada level terendah intraday. Level pivot teknikal di USD67,44 kini menjadi target terdekat, dengan resistance berikutnya di USD71,20.
Namun, jika tekanan jual akibat suplai OPEC+ terus berlanjut dan harga kembali menembus ke bawah MA-200, maka potensi pelemahan lanjutan akan terbuka.
Saat ini, pasar menghadapi tarik-ulur antara sentimen bearish dari suplai dan sentimen bullish dari permintaan serta penurunan stok. Keseimbangan kedua faktor ini akan sangat menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan.
Baca berita ekonomi dan energi lainnya di JurnalLugas.Com.






