JurnalLugas.Com — PT Sari Kreasi Boga Tbk (RAFI), perusahaan yang menaungi jaringan Kebab Baba Rafi, mengalami penurunan kinerja keuangan yang cukup dalam sepanjang semester I-2025. Berdasarkan laporan keuangan terkini, perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp14 miliar, berbalik dari posisi laba Rp8,6 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh merosotnya pendapatan hingga 37 persen, dari Rp204 miliar menjadi Rp128 miliar. Segmen usaha utama RAFI yang meliputi penjualan bahan baku, makanan dan minuman, serta waralaba turut mencatat kontraksi yang tajam. Pendapatan bahan baku turun 37 persen, segmen makanan dan minuman anjlok 52 persen, sedangkan segmen waralaba hampir lumpuh dengan penurunan mencapai 98 persen.
Sebaran Pendapatan Melebar, Tapi Belum Cukup Menahan Penurunan
Meski mengalami tekanan di sisi pendapatan utama, RAFI mencoba memperluas jangkauan bisnisnya di berbagai wilayah. Pendapatan baru tercatat berasal dari Provinsi Banten sebesar Rp20 miliar dan Kepulauan Riau (Kepri) senilai Rp14 miliar. Namun, ekspansi tersebut belum mampu menutupi penurunan drastis di wilayah Jakarta, yang kini hanya menyumbang Rp62 miliar dari total pendapatan perusahaan.
“Ekspansi ke wilayah baru memang memberikan kontribusi positif, namun belum bisa mengimbangi penurunan permintaan di pasar utama,” ujar salah satu manajemen RAFI yang enggan disebut namanya, dikutip dari laporan kinerja perseroan.
Laba Kotor Tertekan, Beban Piutang dan Goodwill Jadi Tantangan
Penurunan pendapatan turut menekan laba kotor RAFI hingga 75 persen, dari sebelumnya Rp37,6 miliar menjadi Rp9,4 miliar. Walaupun beban pokok pendapatan berhasil ditekan sekitar 30 persen menjadi Rp119 miliar, hal tersebut belum cukup menjaga margin keuntungan.
Perseroan juga menghadapi sejumlah tekanan tambahan dari sisi beban penurunan nilai piutang, goodwill, dan keuangan yang secara total mencapai Rp10,4 miliar. Kondisi ini memperdalam kerugian sehingga RAFI akhirnya menutup semester pertama 2025 dengan rugi bersih Rp14 miliar.
Seorang analis pasar modal menyebut, kondisi tersebut menunjukkan adanya tantangan serius dalam manajemen arus kas dan likuiditas. “RAFI perlu memperketat pengelolaan piutang dan menjaga efisiensi biaya operasional agar tidak terus menekan margin laba,” ujar analis tersebut secara terpisah.
Arus Kas Negatif dan Likuiditas Menyusut Drastis
Laporan keuangan RAFI juga menyoroti penurunan signifikan pada arus kas operasi. Selama enam bulan pertama tahun ini, arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat negatif Rp8,6 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya pembayaran dari pelanggan hingga 41 persen, yang semula Rp183 miliar menjadi Rp108 miliar.
Kondisi tersebut ikut menyeret posisi kas dan setara kas yang kini hanya Rp3 miliar, turun tajam dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, persediaan menurun 65 persen menjadi Rp26 miliar, dan piutang meningkat menjadi Rp136 miliar.
“Peningkatan piutang tanpa diikuti perbaikan arus kas berpotensi menimbulkan tekanan likuiditas jangka pendek,” ungkap seorang pengamat keuangan yang memantau sektor ritel kuliner.
Struktur Modal Masih Positif, Didukung Tambahan Setoran Modal
Meskipun menghadapi kerugian dan tekanan likuiditas, RAFI masih mencatat ekuitas positif sebesar Rp298 miliar. Hal ini didukung oleh adanya tambahan setoran modal sebesar Rp102 miliar selama paruh pertama tahun 2025.
Sementara itu, utang jangka pendek perseroan tercatat Rp60 miliar, dan utang non-bank jangka pendek sebesar Rp2 miliar. Dengan posisi ekuitas yang masih kuat, RAFI memiliki ruang untuk melakukan restrukturisasi internal atau mengoptimalkan modal kerja agar tetap mampu beroperasi di tengah tekanan pasar.
Langkah Perusahaan dan Prospek ke Depan
Manajemen RAFI disebut tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi bisnis, khususnya dalam pengelolaan waralaba dan efisiensi distribusi bahan baku. Upaya digitalisasi dan inovasi produk juga dikabarkan menjadi fokus utama perusahaan pada semester kedua tahun ini.
Sebelumnya, RAFI juga sempat menghadapi persoalan hukum terkait utang pinjaman online (pinjol), namun kedua pihak dikabarkan telah mencapai kesepakatan damai. Gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pun rencananya akan dicabut.
Kondisi tersebut dinilai menjadi langkah positif yang dapat memberikan ruang bagi RAFI untuk kembali fokus menata keuangan.
“Kesepakatan damai ini menjadi momentum penting untuk memulihkan kepercayaan investor dan mitra bisnis,” ujar sumber internal RAFI secara singkat.
Secara keseluruhan, kinerja PT Sari Kreasi Boga Tbk (RAFI) pada semester I-2025 menunjukkan adanya tekanan berat di seluruh lini bisnis. Penurunan pendapatan hingga 37 persen, arus kas negatif, dan kerugian bersih Rp14 miliar menggambarkan perlunya langkah cepat dalam efisiensi operasional serta penguatan strategi distribusi.
Namun, dengan ekuitas yang masih positif dan dukungan tambahan modal, peluang pemulihan masih terbuka. Langkah-langkah konsolidasi, ekspansi pasar baru, dan restrukturisasi utang diharapkan menjadi kunci kebangkitan RAFI pada paruh kedua tahun ini.
Baca berita ekonomi dan bisnis terbaru hanya di JurnalLugas.Com






