JurnalLugas.Com — Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menolak keras tuduhan dari Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang menuding pihaknya melakukan penjarahan terhadap truk-truk bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu (2/11), Hamas menilai tuduhan tersebut tidak memiliki dasar bukti dan merupakan upaya politik untuk menutupi kegagalan masyarakat internasional dalam mengakhiri blokade berkepanjangan di Gaza.
Hamas Sebut Tuduhan AS “Rekayasa Politik”
Menurut juru bicara Hamas, tuduhan yang dilontarkan pihak AS merupakan narasi propaganda yang sengaja dibuat untuk membenarkan pembatasan bantuan kemanusiaan.
Seorang pejabat Hamas mengatakan bahwa situasi chaos di wilayah bantuan justru mereda ketika pasukan pendudukan Israel menarik diri, menandakan bahwa “pihak yang menciptakan kekacauan bukanlah warga Gaza, tetapi pendudukan itu sendiri.”
Hamas juga menyebut lebih dari 1.000 anggota kepolisian dan pasukan keamanan Palestina gugur, serta ratusan lainnya mengalami luka-luka, saat berusaha mengamankan jalur distribusi bantuan agar sampai ke warga yang membutuhkan.
Tidak Ada Bukti dari Lembaga Bantuan
Pihak Hamas menegaskan, hingga kini tidak ada laporan resmi dari lembaga kemanusiaan internasional, organisasi lokal, maupun sopir truk bantuan yang menyebut adanya tindakan penjarahan oleh kelompok tersebut.
Pejabat yang sama menambahkan bahwa “klaim video yang dirilis AS adalah manipulasi visual yang digunakan untuk memperkuat kebijakan blokade Gaza.”
Hamas juga menyoroti sikap AS yang dianggap menutup mata terhadap pelanggaran Israel, termasuk serangan-serangan yang menewaskan ratusan warga Palestina, bahkan ketika gencatan senjata sedang berlangsung.
CENTCOM Rilis Rekaman Drone
Sebelumnya, CENTCOM menyebarkan rekaman drone yang diklaim memperlihatkan sejumlah truk bantuan dijarah oleh anggota Hamas di Gaza. Namun Hamas membantah keras hal itu, menyebutnya sebagai bukti yang tidak kredibel dan bermuatan politik.
Krisis Bantuan dan Dukungan AS terhadap Israel
Hamas menjelaskan, rata-rata hanya sekitar 130 hingga 140 truk bantuan yang berhasil masuk ke Gaza setiap hari. Jumlah itu dinilai sangat jauh dari kebutuhan dasar 2,3 juta penduduk di wilayah tersebut. Sebagian besar truk lain disebut membawa muatan komersial yang tidak dapat dijangkau oleh warga miskin.
“Sikap Amerika yang terus mendukung narasi Israel hanya memperdalam penderitaan rakyat Gaza dan menjadikannya bagian dari sistem blokade,” ujar pejabat Hamas tersebut.
Gencatan Senjata Belum Berujung Damai
Gencatan senjata sementara telah diberlakukan sejak 10 Oktober, berdasarkan rencana perdamaian 20 poin yang digagas oleh mantan Presiden AS Donald Trump. Isi kesepakatan itu meliputi pertukaran tahanan, sandera, serta program rekonstruksi pascaperang di Gaza.
Namun hingga kini, situasi kemanusiaan tetap memprihatinkan. Data terbaru menunjukkan lebih dari 68.500 warga Palestina tewas, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 170.000 lainnya terluka sejak agresi Israel dimulai pada Oktober 2023.
Untuk berita internasional terbaru dan analisis mendalam lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com






