JurnalLugas.Com — Kekejaman perang di Sudan kembali menjadi sorotan dunia internasional. Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) diduga melakukan pembantaian massal terhadap lebih dari dua ribu warga sipil di kota el-Fasher, wilayah Darfur, pada bulan lalu.
Sebuah rekaman video yang beredar luas memperlihatkan prajurit berseragam RSF bersorak di atas truk militer sambil melewati barisan panjang jenazah. Salah satu prajurit terdengar berkata lantang, “Lihat semua ini, lihat genosida ini.”
ICC Selidiki Dugaan Kejahatan Perang
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada Senin (3/11/2025) mengumumkan pembukaan penyelidikan resmi terkait dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh RSF di el-Fasher.
Kota tersebut memiliki nilai strategis tinggi karena merupakan benteng terakhir militer Sudan di wilayah Darfur. Setelah aliansi militer dan RSF pecah pada 2023, pertempuran mematikan terus berkecamuk hingga menelan korban yang sangat besar.
Menurut berbagai laporan kemanusiaan, lebih dari 150 ribu orang tewas sejak konflik bersenjata pecah dua tahun lalu. Kedua kubu baik militer Sudan maupun RSF dituding melakukan pelanggaran berat terhadap hukum perang, termasuk menyerang warga sipil dan fasilitas kemanusiaan.
Kota Dikepung, Bantuan Terhenti
Sejak Agustus 2025, RSF memperketat pengepungan terhadap el-Fasher. Pasukan itu membangun tanggul pasir raksasa yang menutup seluruh akses keluar masuk kota.
Citra satelit memperlihatkan bahwa pada awal Oktober, el-Fasher benar-benar terisolasi total. Pengiriman bantuan kemanusiaan terhenti, sementara laporan PBB mengungkapkan puluhan warga sipil tewas akibat serangan drone dan artileri berat terhadap masjid serta kamp pengungsi.
Kesaksian Mengerikan dari Lapangan
Pada 26 Oktober, RSF berhasil merebut markas utama Divisi Infanteri ke-6 setelah pertempuran sengit di jantung kota. Video yang beredar memperlihatkan para prajurit tertawa sambil memasuki markas kosong yang ditinggalkan militer Sudan.
Namun, tak lama kemudian muncul rekaman lain yang memperlihatkan adegan mengerikan. Puluhan jenazah ditemukan berserakan di lantai universitas, sementara seorang pria tua ditembak mati tanpa perlawanan. Dalam video lain, terdengar suara prajurit berteriak, “Kenapa yang ini masih hidup? Tembak dia!”
Bukti Satelit dan Kesaksian Korban
Laporan dari Laboratorium Penelitian Kemanusiaan Universitas Yale (7/11/2025) mengonfirmasi temuan citra satelit yang menunjukkan kumpulan objek menyerupai tubuh manusia di jalanan kota, serta perubahan warna tanah yang diduga bekas darah.
Salah satu saksi mengaku keluarganya “dibunuh secara massal setelah dikumpulkan di satu tempat.” Kesaksian lain menyebut seorang perempuan ditembak di dada sebelum mayatnya dilempar begitu saja ke tepi jalan.
Beberapa kilometer dari pusat kota, rekaman lain memperlihatkan puluhan jenazah warga sipil di dalam parit, termasuk anak-anak dan perempuan. Dalam video berbeda, seorang komandan RSF bernama Abu Lulu terlihat mengeksekusi tahanan tak bersenjata sambil berkata, “Aku tak akan punya belas kasihan. Tugas kami hanya membunuh.”
Upaya RSF Perbaiki Citra Setelah Pembantaian
Setelah kecaman dunia meluas, pemimpin RSF Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo mengakui adanya “pelanggaran disiplin” oleh sejumlah pasukannya. Ia berjanji melakukan penyelidikan internal, dan PBB melaporkan bahwa beberapa anggota RSF, termasuk Abu Lulu, telah ditahan.
Namun, laporan terbaru dari Laboratorium Yale mengindikasikan adanya upaya pembersihan lokasi kejadian. Citra satelit memperlihatkan objek menyerupai jenazah dipindahkan dari area utara kota, sementara muncul gundukan tanah baru di sekitar rumah sakit anak el-Fasher yang diduga menjadi lokasi kuburan massal.
RSF kemudian mencoba memperbaiki citra publik dengan mengunggah video bantuan kemanusiaan dan perlakuan “baik” terhadap tawanan perang melalui akun resminya. Namun, tindakan tersebut dinilai banyak pihak sebagai strategi propaganda untuk mengaburkan jejak kekejaman mereka.
Kecaman Dunia Internasional
Laporan kekerasan di el-Fasher memicu gelombang kecaman global. Berbagai organisasi kemanusiaan menyerukan intervensi internasional segera untuk menghentikan tragedi kemanusiaan di Darfur.
Media internasional, termasuk BBC, telah berupaya menghubungi pihak RSF untuk memberikan klarifikasi, namun hingga kini belum ada tanggapan resmi dari kelompok tersebut.
Sumber berita terkini dan analisis lebih lanjut kunjungi: JurnalLugas.Com






