JurnalLugas.Com — Kota El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, resmi jatuh ke tangan Rapid Support Forces (RSF) pada 26 Oktober 2025. Kejatuhan ini menandai tumbangnya salah satu benteng terakhir milik Sudanese Armed Forces (SAF) di wilayah barat Sudan.
Namun di balik kemenangan RSF, berbagai laporan kejahatan perang mulai mengemuka dan mengguncang dunia internasional.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 460 orang tewas di rumah sakit utama El-Fasher, sementara total korban dilaporkan mencapai lebih dari 2.000 jiwa. Banyak pihak menilai, penguasaan kota tersebut membawa RSF semakin dekat dengan ambisinya mengendalikan seluruh Sudan.
Sosok sentral di balik kekuatan paramiliter ini adalah Mohamed Hamdan Dagalo, yang lebih dikenal dengan nama Hemedti figur kontroversial yang kini menjadi simbol kekuatan dan ketakutan di Sudan.
Akar dan Awal Kehidupan Hemedti
Lahir sekitar tahun 1974 dari suku Mahariya cabang komunitas Rizeigat Arab di Darfur Hemedti tumbuh dalam keluarga penggembala ternak. Julukannya, “Hemedti” atau “Mohamed kecil,” merujuk pada wajah mudanya yang khas.
Di usia 15 tahun, ia meninggalkan sekolah dan bekerja sebagai penggembala unta lintas perbatasan Sudan, Chad, Niger, dan Libya. Sebelum dikenal sebagai komandan militer, ia sempat menjadi pedagang unta yang aktif di jalur perdagangan lintas negara.
Transformasinya dimulai setelah konvoi dagang keluarganya diserang, menyebabkan 60 anggota keluarganya tewas dan ratusan unta dijarah. Tragedi itu mendorongnya mengangkat senjata saat konflik Darfur meletus pada 2003.
Dari Janjaweed ke Rapid Support Forces
Hemedti bergabung dengan milisi Janjaweed, kelompok bersenjata Arab yang dibentuk rezim Presiden Omar al-Bashir untuk menumpas pemberontakan di Darfur. Ketegasannya menarik perhatian pemerintah pusat hingga akhirnya direkrut sebagai bagian dari struktur militer informal di bawah intelijen Sudan.
Reputasinya sebagai pemimpin milisi yang efektif meski dibayangi tuduhan pelanggaran HAM membuka jalan bagi karier militernya. Pada tahun 2013, ia memimpin pembentukan Rapid Support Forces (RSF), versi resmi Janjaweed yang dilegalkan pemerintah.
RSF menjadi pasukan elite yang kerap digunakan untuk mengendalikan pemberontakan dan demonstrasi. Bashir memberikan otonomi penuh kepada Hemedti, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh di Darfur.
Kudeta dan Perang Saudara
Setelah kejatuhan Bashir pada April 2019, Hemedti tetap mempertahankan kekuasaannya. Ia duduk sebagai wakil ketua Dewan Kedaulatan Sudan, mengontrol RSF secara otonom di luar struktur militer reguler.
Pada Oktober 2021, Hemedti bersama Jenderal Abdel Fattah al-Burhan melancarkan kudeta terhadap pemerintahan sipil transisi. Namun, hubungan keduanya memburuk akibat sengketa soal integrasi RSF ke dalam militer nasional.
Konflik berubah menjadi perang terbuka pada 15 April 2023, menewaskan lebih dari 150.000 orang dan mengungsikan 8 juta warga. RSF dan SAF kini berebut kendali atas Khartoum dan wilayah strategis lainnya.
Tuduhan Kejahatan Perang dan Genosida
Nama Hemedti dan RSF telah lama dikaitkan dengan tuduhan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, hingga genosida.
Salah satu peristiwa paling mengerikan terjadi pada 3 Juni 2019, ketika RSF membubarkan aksi duduk damai di Khartoum. Lebih dari 100 orang tewas, ratusan terluka, dan puluhan perempuan dilaporkan menjadi korban kekerasan seksual.
RSF juga dituding melakukan penembakan massal di pasar al-Dalij, Darfur Tengah, serta merekrut anak-anak untuk dikirim ke Perang Yaman, sebagaimana dilaporkan The New York Times (2018).
Sejak meletusnya perang Sudan pada 2023, kekerasan meningkat pesat. Laporan Human Rights Watch (2024) mencatat adanya pemerkosaan massal, perampasan rumah warga, dan penggunaan rumah ibadah serta rumah sakit sebagai tameng militer.
Tuduhan terberat muncul setelah RSF merebut El-Fasher pada Oktober 2025. Menurut Sudan Doctors Network dan Humanitarian Research Lab Yale, RSF melakukan eksekusi massal, pemerkosaan sistematis, dan penyiksaan terhadap warga non-Arab.
WHO mengonfirmasi lebih dari 460 korban di rumah sakit utama, sementara jumlah total korban mencapai 2.000 orang lebih.
Amerika Serikat menanggapi dengan menjatuhkan sanksi ekonomi dan larangan perjalanan terhadap Hemedti dan tujuh perusahaan afiliasinya yang berbasis di Uni Emirat Arab. Pada 7 Januari 2025, Washington secara resmi menuduh RSF melakukan genosida.
Tambang Emas, Sumber Kekayaan dan Kekuatan
Selain kekuatan militer, Hemedti juga dikenal menguasai sumber ekonomi vital Sudan tambang emas Jebel Amer di Darfur Barat.
Melalui perusahaan Algunade, yang dikendalikan keluarganya, ia mengekspor hampir satu ton emas ke Dubai pada akhir 2018, senilai sekitar 30 juta dolar AS.
Dalam wawancara dengan BBC pada 2019, Hemedti mengakui keterlibatannya di sektor emas:
“Benar, kami memiliki tambang, dan tidak ada hukum yang melarang kami bekerja di sektor emas,” ujarnya.
Namun, banyak pengamat menilai kekayaan emas inilah yang menopang kekuatan RSF, baik untuk membeli persenjataan maupun membiayai operasi militernya di seluruh Sudan.
Kini, sosok Hemedti berada di pusat badai konflik yang membelah Sudan. Dari seorang penggembala sederhana hingga pemimpin milisi paling berkuasa di Afrika Timur, perjalanannya mencerminkan paradoks kekuasaan antara ambisi, kekayaan, dan darah yang tertumpah.
Apakah dunia akan melihatnya sebagai penyelamat atau penjahat perang, masih menjadi pertanyaan terbuka bagi sejarah Sudan modern.
Untuk berita politik dan analisis global terbaru, kunjungi JurnalLugas.Com






