JurnalLugas.Com — Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) Jumat (7/11/2025) lalu, kembali terkoreksi pada penutupan perdagangan akhir pekan ini. Kontrak berjangka pengiriman Januari di Bursa Derivatif Malaysia ditutup turun ke level sekitar MYR 4.110 per ton, melemah hampir 1 persen dibanding sesi sebelumnya. Tren penurunan ini memperpanjang fase pelemahan harga CPO selama empat pekan berturut-turut.
Faktor Utama Penurunan Harga
Beberapa faktor mendasari tekanan harga sawit global yang terus berlanjut:
- Kenaikan Stok Produksi di Malaysia
Produksi sawit Malaysia meningkat signifikan menjelang akhir Oktober. Persediaan nasional diproyeksikan menembus 2,4 juta ton metrik, menjadi level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Melimpahnya stok membuat tekanan terhadap harga semakin kuat di pasar internasional. - Harga Minyak Mentah Dunia Melemah
Karena minyak sawit kerap digunakan sebagai bahan baku biodiesel, pelemahan harga minyak mentah global turut menekan permintaan. Saat harga minyak fosil turun, minat terhadap biodiesel berbasis CPO biasanya ikut merosot. - Persaingan Ketat dengan Minyak Nabati Lain
Harga minyak kedelai yang lebih kompetitif menjadikan posisi CPO kurang menarik di pasar ekspor. Analis menilai, gap harga antara minyak sawit dan kedelai mempersempit ruang kenaikan harga CPO dalam jangka pendek.
Komentar Analis
Seorang analis pasar komoditas yang berbasis di Kuala Lumpur menjelaskan bahwa tekanan pada harga CPO dipicu kombinasi antara peningkatan produksi, lemahnya harga minyak mentah, serta turunnya permintaan biodiesel.
“Pasar masih berhati-hati. Meski tekanan cukup besar, level teknikal di sekitar MYR 4.080 per ton bisa menjadi titik pantul harga apabila terjadi pembelian baru,” ujarnya.
Dampak Terhadap Industri
- Produsen sawit berpotensi menghadapi penurunan margin akibat melimpahnya pasokan dan harga ekspor yang melemah.
- Eksportir CPO kemungkinan menahan pengiriman untuk menunggu harga lebih stabil.
- Investor komoditas diimbau mencermati data resmi dari lembaga sawit Malaysia (MPOB) yang dijadwalkan dirilis dalam waktu dekat untuk melihat arah pasar selanjutnya.
Jika data ekspor atau produksi menunjukkan tanda perlambatan, harga CPO berpotensi pulih di penghujung November. Namun jika stok terus naik sementara minyak mentah global belum stabil, tekanan harga masih bisa berlanjut hingga awal Desember.
Meski begitu, pelaku pasar menilai pelemahan saat ini bisa menjadi peluang akumulasi bagi pembeli jangka menengah karena harga sudah mendekati level dukungan kuat.
Baca berita ekonomi dan komoditas terkini lainnya hanya di JurnalLugas.Com.






