JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (18/11) mengumumkan peningkatan hubungan strategis dengan Arab Saudi dengan menetapkan Kerajaan tersebut sebagai sekutu utama non-NATO.
Pengumuman itu disampaikan Trump saat menjamu Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, dalam jamuan makan malam resmi di Gedung Putih. Menurut Trump, keputusan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara.
“Dengan bangga saya umumkan bahwa kami akan meningkatkan kerja sama militer ke tingkat yang lebih tinggi dengan secara resmi menunjuk Arab Saudi sebagai sekutu utama non-NATO, sesuatu yang sangat penting bagi mereka,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa penetapan ini sempat dirahasiakan atas permintaan pihak Saudi.
Selain itu, Trump menyampaikan selamat atas penandatanganan perjanjian pertahanan strategis, yang disebutnya sebagai kesepakatan bersejarah. Perjanjian ini diharapkan memperkuat kemitraan pertahanan antara AS dan Arab Saudi selama lebih dari delapan dekade, sekaligus meningkatkan kemampuan pencegahan di kawasan Timur Tengah.
Status sekutu utama non-NATO memberi sejumlah keuntungan bagi Arab Saudi, termasuk akses istimewa terhadap persenjataan, pelatihan militer, peluang riset dan pengembangan bersama Departemen Pertahanan AS, serta kemudahan dalam perdagangan senjata. Beberapa negara yang telah berstatus serupa antara lain Bahrain, Kolombia, Mesir, Israel, Jepang, Kenya, Pakistan, Qatar, Korea Selatan, dan Tunisia.
Meski demikian, status ini tidak otomatis menjamin jaminan keamanan penuh. Hingga saat ini, Gedung Putih belum menjawab pertanyaan apakah peningkatan kemampuan pencegahan mencakup jaminan bahwa AS akan membela Arab Saudi jika diserang.
Pengumuman ini menandai babak baru dalam hubungan AS-Saudi, terutama di bidang pertahanan, perdagangan senjata, dan stabilitas regional. Para analis menilai langkah ini bisa berdampak signifikan terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com






