JurnalLugas.Com — Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel kembali mengirim peringatan keras kepada Washington terkait meningkatnya ketegangan di kawasan Karibia. Melalui pernyataannya di platform X pada Selasa, 2 Desember 2025, ia menuding Amerika Serikat tengah menyiapkan langkah agresi militer untuk menggulingkan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Menurut Díaz-Canel, setiap bentuk intervensi terhadap pemerintahan sah di Caracas merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. “Campur tangan AS, ancaman, dan agresi militer yang dipersiapkan untuk menggulingkan pemerintah sah Venezuela tidak bisa diterima,” ujar D-Canel dalam unggahan singkatnya.
AS Dinilai Masih Gunakan Pola Politik Usang
Pemimpin Kuba itu juga menilai bahwa pendekatan Washington tak ubahnya menghidupkan kembali gaya politik kapal meriam dan Doktrin Monroe, dua konsep lama yang menurutnya sudah tidak relevan di era modern. Ia menegaskan bahwa Amerika Latin dan Karibia semestinya dipandang sebagai “zona damai” yang harus bebas dari tekanan geopolitik negara besar.
Kuba selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu paling vokal dalam mendukung kedaulatan Venezuela. D-Canel menilai segala bentuk eskalasi oleh negara asing hanya akan memperbesar risiko instabilitas kawasan. “Kami terus mengingatkan bahwa setiap upaya destabilisasi akan membawa dampak buruk bagi seluruh wilayah,” tegasnya.
Pentagon Perluas Operasi Militer di Karibia
Pernyataan D-Canel muncul di tengah meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di sekitar Venezuela. Pentagon diketahui telah mengerahkan aset laut, udara, dan darat di kawasan Karibia, termasuk keberadaan kapal induk USS Gerald Ford yang dikirim dalam beberapa pekan terakhir.
Washington berdalih bahwa ekspansi militernya di wilayah tersebut ditujukan untuk memerangi jaringan perdagangan narkoba internasional. Namun, Caracas dan sekutunya menilai alasan tersebut hanya menjadi dalih untuk menekan pemerintahan Maduro.
Trump Prediksi Maduro Akan Tersingkir, Namun Bantah Ingin Perang
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan keyakinannya bahwa kekuasaan Maduro berada di ujung tanduk. Kendati demikian, ia menegaskan tidak ada rencana untuk menggelar perang melawan Venezuela. “Hari-hari Maduro tinggal menghitung waktu, tapi kami tidak berniat berperang,” ujar T-Trump dalam pernyataan terpisah.
Meski demikian, sinyal diplomatik antara kedua pemimpin sebenarnya masih ada. Pada Minggu, 30 November, Trump mengonfirmasi bahwa ia telah melakukan pembicaraan telepon dengan Maduro, meski tidak mengungkapkan isi percakapan tersebut.
Sikap saling tuding antara kedua negara ini menambah dinamika geopolitik yang makin panas di kawasan Karibia, dan negara-negara tetangga kini terus memantau perkembangan tersebut dengan penuh kewaspadaan.
Selengkapnya kunjungi: https://JurnalLugas.Com






