JurnalLugas.Com — Ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja kembali memuncak. Memasuki hari keempat bentrokan pada Kamis (11/12), situasi justru semakin memburuk dengan jumlah korban tewas yang kini mencapai 16 orang dan arus pengungsian yang terus melonjak.
Ratusan Ribu Warga Kamboja Mengungsi
Menteri Senior Kamboja, Jenderal Kun Kim, mengatakan bahwa 130.000–150.000 warga telah melarikan diri ke lokasi penampungan darurat. Ia menyebut situasi keamanan “kian tidak menentu” setelah tembak-menembak kembali terjadi di sepanjang garis perbatasan.
Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh militer Thailand melakukan serangan intensif menggunakan senjata berat dan jet tempur F-16. Menurut laporan kantor berita pemerintah, sedikitnya 10 warga sipil tewas dan 60 lainnya terluka sejak Senin (8/12).
Pemerintah Phnom Penh juga telah mengirim surat resmi kepada Dewan Keamanan PBB, menuding Thailand melakukan “serangan militer yang tidak diprovokasi dan melanggar hukum internasional.”
Thailand Bantah, Balik Menyalahkan Kamboja
Sementara itu, militer Thailand menyampaikan versi berbeda. Menurut pihak Angkatan Darat Kerajaan Thailand, justru pasukan Kamboja yang lebih dulu melakukan serangan berkelanjutan sejak 7 Desember.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, mengatakan bahwa “ribuan peluru senjata ringan dan berat” ditembakkan ke wilayah Thailand, termasuk ke area pemukiman warga dan fasilitas medis. Ia mengungkapkan bahwa lebih dari 400.000 orang di wilayah Thailand telah dievakuasi.
Terkait tuduhan mengenai kerusakan kawasan sipil dan situs budaya, pihak Thailand mengeklaim bahwa intelijen mereka menemukan pos-pos tempur Kamboja ditempatkan di dalam area sipil, kasino, dan lokasi bersejarah, sehingga meningkatkan risiko korban non-kombatan.
Korban Jiwa Meningkat, Sekolah Ditutup
Sejak bentrokan meletus awal pekan, Thailand menyatakan enam tentaranya tewas. Di kedua sisi perbatasan, lebih dari setengah juta warga kini harus mengungsi. Beberapa sekolah di distrik perbatasan bahkan telah ditutup dan difungsikan sebagai tempat penampungan darurat.
Thailand mengonfirmasi penggunaan jet tempur F-16 dalam operasi militer terkini, namun hingga kini Kamboja belum merilis data korban dari pihak militernya.
Konstelasi Politik Thailand Ikut Panas
Di tengah eskalasi konflik, muncul spekulasi bahwa Thailand akan membubarkan parlemen untuk pemilu dini. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menegaskan bahwa “tidak ada keputusan untuk membubarkan DPR selama operasi keamanan nasional masih berlangsung.”
Anutin sebelumnya mengisyaratkan bahwa pembubaran DPR bisa saja dilakukan sebelum 31 Januari, namun konflik perbatasan membuat rencana tersebut kembali dipertanyakan.
Delegasi Thailand di PBB juga mengirim surat balasan, menolak seluruh tuduhan Kamboja dan menyebutnya sebagai “informasi yang sengaja dipelintir untuk mengubah persepsi dunia internasional.”
Dampak Internasional: SEA Games Terganggu hingga Ancaman ICC
Kamboja menarik seluruh atletnya dari SEA Games ke-33 Tahun 2025 di Thailand dengan alasan keamanan regional yang tidak kondusif.
Bahkan, pemerintah Kamboja menyatakan sedang mengumpulkan bukti untuk kemungkinan membawa kasus ini ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag sebagai dugaan agresi bersenjata oleh Thailand.
Konflik kedua negara disebut melanggar perjanjian damai yang ditandatangani di Kuala Lumpur pada Oktober lalu, di hadapan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Amerika Serikat sendiri menyatakan “keprihatinan mendalam” dan menyebut Trump akan segera menghubungi pemimpin kedua negara untuk meredakan ketegangan.
Konflik Berkepanjangan yang Masih Sulit Reda
Sengketa perbatasan Thailand–Kamboja bukan hal baru. Konflik serupa meletus pada Juli lalu, menewaskan setidaknya 48 orang, dan hingga kini 18 tentara Kamboja masih ditahan oleh pihak Thailand.
Sejak Juli, perbatasan darat kedua negara ditutup, memukul aktivitas ekonomi dan perjalanan lintas batas.
Di sisi lain, Kedutaan Besar China di Kamboja mengeluarkan imbauan keselamatan bagi warganya agar menjauhi area perbatasan yang masih bergejolak.
Ketidakpastian Masih Membayangi
Dengan kedua negara yang saling tuding dan belum ada tanda-tanda deeskalasi, masyarakat di perbatasan Thailand–Kamboja masih menghadapi ketidakpastian. Upaya diplomasi internasional diharapkan dapat dilakukan lebih cepat untuk menghentikan eskalasi dan menghindari meningkatnya korban sipil.
Baca berita terbaru lainnya di:
JurnalLugas.Com






