Maduro Tegaskan AS Gagal Paksa Dominasi Kolonial atas Venezuela

JurnalLugas.Com — Presiden Venezuela Nicolas Maduro kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat (AS) di tengah memanasnya hubungan bilateral kedua negara. Maduro menegaskan Washington tidak akan pernah berhasil memaksakan dominasi kolonial maupun menguasai sumber daya alam Venezuela melalui tekanan politik dan militer.

Pernyataan tersebut disampaikan Maduro saat menghadiri pertemuan bersama jajaran wakil presiden di Caracas pada Sabtu (27/12). Dalam kesempatan itu, ia menilai upaya AS membentuk “realitas semu” untuk melemahkan kedaulatan Venezuela hanyalah strategi lama yang tidak lagi relevan.

Bacaan Lainnya

Maduro menekankan bahwa Venezuela merupakan negara berdaulat yang memiliki kapasitas penuh untuk menentukan arah pembangunan nasionalnya tanpa campur tangan asing. Menurutnya, rakyat Venezuela telah membuktikan ketangguhan dalam menghadapi tekanan ekonomi, sanksi, dan intervensi politik dari luar negeri.

Ia juga menyinggung dukungan Amerika Serikat terhadap sejumlah tokoh oposisi Venezuela seperti Leopoldo Lopez, Juan Guaido, dan Maria Corina Machado. Maduro menyebut keterlibatan Washington dalam mendukung oposisi tidak membuahkan hasil apa pun. Upaya tersebut, katanya, justru memperlihatkan kegagalan AS memahami realitas politik dan sosial Venezuela.

Baca Juga  Ryan Routh Divonis Penjara Seumur Hidup, Terbukti Rencanakan Pembunuhan Donald Trump

“Tanah air ini tidak akan pernah bisa direbut,” tegas Maduro dalam pernyataannya yang dikutip secara singkat. Ia menambahkan bahwa pemerintahannya akan terus berjalan seiring dengan rakyat dan menargetkan pencapaian besar di masa depan, meski berada di bawah tekanan internasional.

Dalam pidatonya, Maduro juga menegaskan bahwa Venezuela tetap mengedepankan pesan perdamaian. Ia menyatakan negaranya tidak menginginkan konflik, melainkan hubungan internasional yang dilandasi rasa saling menghormati, cinta, dan pengertian antarbangsa.

Ketegangan antara Caracas dan Washington sendiri bukan hal baru. Amerika Serikat selama ini membenarkan kehadiran militernya di kawasan Karibia dengan dalih memerangi perdagangan narkoba lintas negara. Namun, Venezuela menilai alasan tersebut tidak lebih dari pembenaran untuk memperluas pengaruh militer AS di wilayah strategis tersebut.

Situasi semakin memanas sejak awal September, ketika Presiden AS Donald Trump memberikan izin kepada militer Amerika untuk melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba di perairan lepas pantai Venezuela. Langkah itu langsung menuai kecaman dari pemerintah Caracas.

Baca Juga  Iran Simpan Rudal Rahasia Siap Jangkau Daratan Paman Sam

Pada November lalu, Trump bahkan sempat menyatakan bahwa kepemimpinan Maduro “tinggal menghitung hari”. Meski demikian, ia menegaskan Amerika Serikat tidak berniat melancarkan perang terbuka melawan Venezuela. Pernyataan tersebut dinilai kontradiktif dan menambah ketidakpastian situasi kawasan.

Pemerintah Venezuela menilai kebijakan AS sebagai bentuk provokasi serius yang berpotensi mengganggu stabilitas regional. Caracas juga menegaskan bahwa langkah militer Washington bertentangan dengan sejumlah perjanjian internasional yang menetapkan kawasan Karibia sebagai zona damai, bebas dari kehadiran militer dan senjata nuklir.

Dalam konteks geopolitik Amerika Latin, sikap keras Maduro mencerminkan upaya Venezuela mempertahankan kedaulatan nasional di tengah tekanan global. Pemerintah Venezuela terus menyerukan dialog internasional yang setara, tanpa ancaman atau intervensi, sebagai jalan menuju stabilitas dan perdamaian jangka panjang di kawasan.

Baca berita internasional lainnya hanya di: https://JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait