Indonesia Stop Impor Beras, Harga Dunia Anjlok 44 Persen, Petani Penentu Pasar Global

JurnalLugas.Com – Indonesia resmi menorehkan sejarah baru dalam sektor pangan nasional. Keberhasilan mencapai swasembada beras tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan dalam negeri, tetapi juga mengguncang harga beras di pasar internasional. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut kebijakan tanpa impor membuat harga beras dunia anjlok drastis hingga 44 persen.

Dalam keterangannya di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026), Amran menjelaskan bahwa harga beras global turun tajam dari kisaran 650 dolar Amerika Serikat per metrik ton menjadi sekitar 340 dolar AS per metrik ton. Penurunan ini disebut sebagai efek langsung dari absennya Indonesia sebagai negara pengimpor beras.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, keputusan Indonesia untuk menghentikan impor menyebabkan pasokan beras dari negara-negara eksportir menumpuk di pasar internasional. Kondisi tersebut memicu koreksi harga secara global. Ia menilai capaian ini menjadi bukti nyata bahwa petani Indonesia kini berperan penting di panggung pangan dunia.

Amran menegaskan, kontribusi petani nasional kini tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga memberi dampak bagi stabilitas pasar beras internasional. Ia menyebut kebijakan strategis pemerintah telah membawa Indonesia pada posisi yang sangat diperhitungkan.

Keberhasilan ini, lanjut Amran, tidak terlepas dari arahan tegas Presiden Prabowo Subianto yang mendorong Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dalam pemenuhan pangan, khususnya beras. Selama bertahun-tahun, Indonesia kerap mengandalkan impor akibat produksi padi yang belum optimal. Namun kondisi itu berubah drastis sejak kebijakan pro-petani dijalankan secara konsisten.

Baca Juga  HPP Gabah Rp6.500, Mentan untuk Berbagai Kondisi Kualitas Hasil Petani

Hasilnya, produksi padi nasional melonjak signifikan. Memasuki awal 2026, stok beras nasional tercatat mencapai 3,25 juta ton. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah, mengingat selama ini Indonesia belum pernah memiliki stok awal tahun di atas 3 juta ton.

Dengan tidak adanya impor sejak 2025, kelebihan pasokan beras di negara-negara eksportir seperti Vietnam, Thailand, India, dan Pakistan tidak terelakkan. Situasi tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu faktor kunci dalam pembentukan harga beras dunia.

Amran menekankan bahwa pencapaian swasembada beras merupakan buah dari kebijakan besar Presiden Prabowo yang kemudian dieksekusi lintas sektor. Kementerian Pertanian bekerja bersama TNI-Polri, Kejaksaan, Kementerian Perdagangan, BUMN, serta Komisi IV DPR untuk memastikan produksi, distribusi, dan pengawasan berjalan optimal.

Keputusan strategis untuk menutup keran impor beras mulai 2025 dinilai sebagai langkah bersejarah. Pemerintah memastikan kebutuhan konsumsi masyarakat sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri. Saat ini, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) seluruhnya berasal dari hasil panen petani nasional.

Amran juga menyoroti dampak langsung kebijakan tersebut terhadap kesejahteraan petani. Harga gabah mengalami kenaikan, pendapatan petani meningkat, dan sektor pertanian kembali menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Ia menyebut kondisi ini sebagai momen kebahagiaan kolektif bagi petani di seluruh Indonesia.

Pergerakan harga beras global sendiri dapat dipantau melalui data resmi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Melalui indikator The FAO All Rice Price Index (FARPI), tercatat bahwa indeks harga beras dunia mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir pada November 2025 di level 96,9. Sebelumnya, rekor terendah terjadi pada Agustus 2021 di angka 97,9.

Baca Juga  Mentan Amran Perang Dagang Bukan Ancaman Indonesia Justru Semakin Tangguh

Menariknya, pada kedua periode tersebut Indonesia sama-sama tidak melakukan impor beras. Fakta ini mempertegas betapa besar pengaruh Indonesia terhadap dinamika pasar beras internasional. Dalam 18 tahun terakhir, stok CBP tanpa dukungan impor pun belum pernah menembus angka 3 juta ton seperti yang terjadi saat ini.

Catatan historis menunjukkan bahwa pada 2008 dan 2009, saat Indonesia tidak melakukan impor, stok CBP hanya berada di kisaran 1,1 juta hingga 1,6 juta ton. Sementara pada periode 2019–2021, stok akhir CBP berkisar antara 0,8 juta hingga 2,2 juta ton. Capaian 2026 pun menjadi tonggak baru dalam sejarah pangan nasional.

Keberhasilan swasembada beras ini menegaskan bahwa kebijakan konsisten, keberpihakan pada petani, serta penguatan produksi dalam negeri mampu menjadikan Indonesia tidak hanya mandiri, tetapi juga berpengaruh secara global.

Baca berita dan analisis kebijakan pangan lainnya di https://JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait