Menlu Iran Peluang Damai dengan AS, Salah Perhitungan Bisa Picu Perang Regional

JurnalLugas.Com — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa peluang perundingan nuklir yang bermakna dengan Amerika Serikat (AS) masih terbuka, asalkan kepercayaan Teheran terhadap Washington dapat dipulihkan. Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi pada Minggu (1/2), di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Meski membuka ruang dialog, Araghchi memberikan peringatan keras terkait potensi konfrontasi militer. Ia menilai konflik bersenjata dalam bentuk apa pun tidak akan bersifat terbatas, melainkan berisiko meluas dan menyeret kawasan yang lebih luas ke dalam instabilitas.

Bacaan Lainnya

Menurut Araghchi, ancaman terbesar bukanlah perang secara langsung, melainkan risiko salah perhitungan akibat informasi keliru serta dorongan pihak-pihak eksternal yang berupaya membawa Washington menuju konflik terbuka dengan Teheran. Ia menyebut dinamika tersebut sangat berbahaya bagi stabilitas regional.

Iran, lanjutnya, saat ini mengakui telah kehilangan kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai mitra perundingan. Kendati demikian, sejumlah negara di kawasan disebut masih memainkan peran penting sebagai mediator untuk menyampaikan pesan dan membantu membangun kembali kepercayaan yang sempat runtuh.

Baca Juga  Andrey Kelin Inggris Terlibat Langsung Serangan AS ke Iran

“Kami memang kehilangan kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai mitra dialog. Namun ketidakpercayaan ini masih bisa diatasi,” ujar Araghchi singkat.

Ia menilai komunikasi yang berlangsung saat ini, meski terbatas, bersifat produktif dan berpotensi menjadi fondasi awal bagi perundingan yang lebih substansial ke depan. Araghchi juga menegaskan bahwa substansi pembicaraan jauh lebih penting dibanding format, baik dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.

Menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan komitmennya mencegah Iran memiliki senjata nuklir, Araghchi menyatakan bahwa Teheran sejalan dengan tujuan tersebut. Menurutnya, kesamaan pandangan ini dapat menjadi pintu masuk bagi dialog lanjutan yang lebih serius.

“Saya melihat peluang pembicaraan lanjutan, jika tim perunding Amerika benar-benar berpegang pada tujuan Presiden Trump, yaitu kesepakatan yang adil dan setara tanpa senjata nuklir,” kata Araghchi.

Namun, ia menegaskan bahwa pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran harus menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap kesepakatan. Tanpa imbal balik tersebut, perundingan dinilai tidak akan menghasilkan kemajuan berarti.

Araghchi juga secara tegas menolak perluasan agenda negosiasi yang mencakup program rudal balistik Iran maupun hubungan Teheran dengan kelompok-kelompok sekutu di kawasan. Ia menilai tuntutan semacam itu tidak realistis dan justru berpotensi menggagalkan dialog.

Baca Juga  Yahya Saree Serangan Rudal ke Israel Selatan, Houthi Terkoordinasi Iran dan Hizbullah

Terkait kemungkinan konflik militer dengan AS, Araghchi menyebut skenario tersebut sebagai “bencana bagi semua pihak”. Ia menyoroti keberadaan pangkalan militer AS yang tersebar di berbagai negara kawasan, yang membuat konflik hampir pasti melibatkan banyak negara.

Ia juga mengungkapkan bahwa Iran telah memetik pelajaran penting dari konflik sebelumnya dengan Israel, termasuk dengan menguji kemampuan sistem persenjataannya dalam kondisi nyata. Hal itu, menurutnya, meningkatkan pemahaman Iran terhadap kekuatan dan keterbatasan militernya.

“Kami kini berada dalam kondisi siap, tetapi kesiapan tidak berarti keinginan untuk berperang. Justru tujuan kami adalah mencegah perang,” tegasnya.

Menanggapi kekhawatiran Presiden Trump terkait isu tahanan di Iran, Araghchi membantah adanya rencana pelaksanaan hukuman mati yang berkaitan dengan kerusuhan terbaru. Ia memastikan bahwa hak-hak seluruh individu yang ditangkap dan ditahan akan dihormati serta dijamin sesuai hukum yang berlaku.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com https://jurnallugas.com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait