Gegara Iran, Trump dan Starmer Mulai Enggak Akur, AS Inggris Pecah Kongsi

JurnalLugas.Com — Hubungan antara Amerika Serikat dan Inggris kembali menjadi sorotan global. Kali ini, dinamika politik antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer disebut-sebut mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakharmonisan.

Isu ini mencuat setelah perbedaan sikap keduanya terkait penggunaan pangkalan militer Inggris dalam operasi terhadap Iran.

Bacaan Lainnya

Sinyal Retaknya “Special Relationship”

Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengungkapkan kekecewaan atas lambannya keputusan Inggris dalam merespons permintaan Washington. Ia menilai hubungan kedua negara tidak lagi seerat sebelumnya.

“Hubungan kami berbeda dari dulu. Saya tidak menyangka respons seperti ini datang dari Inggris,” ujar Trump dalam keterangan yang dikutip media Inggris.

Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa “special relationship” istilah yang selama ini menggambarkan kedekatan strategis AS-Inggris tengah diuji oleh realitas politik baru.

Starmer Pilih Jalur Hati-Hati

Di sisi lain, Starmer mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati. Ia menegaskan bahwa Inggris tidak mendukung skenario “perubahan rezim dari udara”, sebuah frasa yang merujuk pada upaya mengganti pemerintahan melalui serangan militer.

Baca Juga  Sheinbaum Tolak Bantuan Militer AS di Tengah Krisis Kartel Meksiko

Sumber pemerintahan Inggris, disingkat “PP”, menyatakan bahwa keputusan awal untuk menahan izin penggunaan pangkalan militer didasarkan pada kalkulasi keamanan nasional. “Setiap langkah militer harus terukur dan tidak memperluas konflik,” ujar PP.

Namun, setelah terjadi peningkatan ancaman, termasuk upaya serangan drone yang berhasil dicegat di pangkalan Inggris di Siprus, pemerintah Inggris akhirnya menyetujui penggunaan fasilitas militernya dalam kerangka operasi defensif.

Perbandingan dengan Sekutu Lain

Trump juga secara terbuka membandingkan respons Inggris dengan dukungan yang disebutnya datang dari Prancis serta Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte.

Menurut analis geopolitik, disingkat “DR”, pernyataan tersebut menunjukkan adanya tekanan diplomatik terselubung. “Trump ingin menunjukkan bahwa AS masih memiliki dukungan kuat di Eropa, meskipun Inggris mengambil posisi berbeda,” kata DR.

Dinamika Politik Domestik Inggris

Ketidaksinkronan sikap ini juga berimbas pada politik domestik Inggris. Pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch mengkritik pemerintah yang dinilainya terlalu berhati-hati dalam menghadapi Iran.

Baca Juga  Trump Pindahkan Warga Gaza ke Mesir dan Yordania

Ia menyebut Inggris harus lebih tegas dalam mendukung sekutu utamanya di tengah eskalasi ancaman keamanan global.

Akur atau Sekadar Beda Strategi?

Meski muncul narasi bahwa Trump dan Starmer mulai tidak akur, sejumlah pengamat menilai situasi ini lebih mencerminkan perbedaan strategi ketimbang keretakan permanen.

Hubungan pertahanan dan intelijen antara AS dan Inggris masih menjadi tulang punggung keamanan trans-Atlantik. Namun, gaya kepemimpinan yang kontras Trump yang vokal dan langsung, serta Starmer yang cenderung diplomatis dan berhitung membuat dinamika komunikasi keduanya terlihat lebih tegang di ruang publik.

Ke depan, arah hubungan Washington-London akan sangat bergantung pada bagaimana kedua pemimpin ini mengelola perbedaan tanpa mengorbankan kepentingan strategis bersama.

Baca analisis geopolitik dan berita internasional terkini lainnya di https://jurnalluguas.com

(SF)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait