JurnalLugas.Com — Ketegangan di perbatasan kembali memanas. Kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, pada Selasa (3/3) menyatakan siap melancarkan serangan balasan terhadap Israel menyusul rangkaian aksi militer yang dinilai terus berlangsung meski telah ada kesepakatan gencatan senjata.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menegaskan bahwa pihaknya tak lagi melihat komitmen penghentian konflik sebagai realitas di lapangan. Mereka menyebut situasi saat ini sebagai “perang yang tak pernah benar-benar berhenti” sejak kesepakatan damai diumumkan pada November 2024.
Seorang perwakilan kelompok itu, yang namanya disingkat demi alasan keamanan, mengatakan bahwa kesabaran mereka telah mencapai batas. “Jika lawan menghendaki konflik berkepanjangan, maka kami siap menghadapi konsekuensinya,” ujarnya singkat.
Pemerintah Lebanon Ambil Sikap Tegas
Di sisi lain, Presiden Joseph Aoun menegaskan bahwa keputusan pemerintah untuk melarang aktivitas militer Hizbullah merupakan kebijakan final. Ia memastikan kabinet telah memerintahkan aparat keamanan untuk mencegah segala bentuk operasi militer yang dilakukan di luar kendali negara.
Pernyataan itu memperlihatkan adanya jarak politik antara otoritas resmi Lebanon dan kelompok Hizbullah dalam menyikapi eskalasi terbaru.
Sumber pemerintahan, disingkat JA, menekankan bahwa stabilitas nasional menjadi prioritas utama. “Negara tidak ingin terseret dalam konflik regional yang lebih luas,” katanya.
Serangan Drone dan Roket Picu Eskalasi
Sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan pada November 2024, militer Israel disebut masih beberapa kali melakukan serangan udara ke wilayah Lebanon, terutama dengan penggunaan drone yang menargetkan anggota Hizbullah.
Ketegangan meningkat tajam setelah enam roket diluncurkan dari wilayah Lebanon pada Minggu (1/3) malam. Insiden tersebut memicu respons militer Israel berupa serangan intensif di pinggiran Beirut serta pemboman di kawasan selatan dan timur Lebanon.
Wilayah yang terdampak dilaporkan mengalami kerusakan infrastruktur dan kepanikan warga. Hingga kini, belum ada data resmi mengenai jumlah korban terbaru dari kedua belah pihak.
Potensi Perang Terbuka di Perbatasan
Pengamat keamanan kawasan Timur Tengah menilai situasi saat ini berada dalam fase paling rentan sejak kesepakatan damai dicapai. Jika kedua pihak terus meningkatkan retorika dan aksi militer, potensi konflik terbuka sangat mungkin terjadi.
Meski pemerintah Lebanon berupaya membatasi ruang gerak Hizbullah, dinamika di lapangan menunjukkan kompleksitas yang sulit dikendalikan sepenuhnya.
Perkembangan terbaru ini menjadi sorotan dunia internasional, mengingat konflik Lebanon–Israel kerap berdampak luas terhadap stabilitas regional.
Ikuti pembaruan berita geopolitik dan analisis mendalam lainnya hanya di JurnalLugas.Com
(HN)






