Kerugian GoTo Turun Drastis di 2025 Jadi Rp1,2 Triliun, Tapi Akumulasi Rugi Masih Rp215 Triliun

JurnalLugas.Com — Kinerja keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk menunjukkan perbaikan penting sepanjang tahun 2025. Perusahaan teknologi yang menaungi berbagai layanan digital tersebut berhasil menekan kerugian bersih secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, meski secara total akumulasi kerugian perusahaan masih sangat besar.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru perseroan, GoTo mencatat kerugian bersih sekitar Rp1,2 triliun sepanjang 2025. Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan kerugian pada tahun 2024 yang mencapai sekitar Rp5,2 triliun.

Bacaan Lainnya

Penurunan kerugian ini menjadi indikasi bahwa strategi efisiensi dan optimalisasi bisnis yang dijalankan perusahaan mulai memberikan hasil. Dalam beberapa tahun terakhir, GoTo memang fokus memperbaiki struktur biaya serta meningkatkan monetisasi pada berbagai layanan dalam ekosistemnya.

Pendapatan GoTo Tumbuh Dua Digit

Di tengah upaya perbaikan kinerja, GoTo juga mencatat pertumbuhan pendapatan yang cukup solid. Sepanjang 2025, perusahaan membukukan pendapatan sekitar Rp18,3 triliun, meningkat sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh sejumlah lini bisnis utama yang masih menjadi motor penggerak perusahaan, di antaranya layanan pengiriman, komisi layanan digital, serta layanan finansial.

Kontribusi terbesar berasal dari layanan pengiriman yang menghasilkan pendapatan sekitar Rp5,8 triliun, meningkat lebih dari 8 persen secara tahunan. Sementara itu, pendapatan dari imbalan jasa tercatat sekitar Rp5,7 triliun.

Baca Juga  Kalon Holdings Tunda Penyelesaian Akuisisi Mandom Indonesia, Apa Sebenarnya Terjadi?

Pertumbuhan paling signifikan terjadi pada layanan pinjaman dalam ekosistem GoPay, yang melonjak hingga sekitar 95 persen menjadi Rp3,8 triliun. Kenaikan tajam ini menunjukkan semakin kuatnya peran layanan keuangan digital dalam ekosistem bisnis GoTo.

Seorang analis pasar menyebut peningkatan pendapatan dari layanan finansial menjadi sinyal positif bagi masa depan perusahaan. Ia menilai layanan keuangan digital berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi GoTo.

Beban Operasional Masih Besar

Meski pendapatan meningkat, beban operasional perusahaan masih cukup tinggi. Sepanjang 2025, total beban usaha GoTo tercatat sekitar Rp18,7 triliun, meningkat sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Beberapa komponen biaya terbesar yang menyumbang pengeluaran perusahaan antara lain:

  • Biaya layanan pengiriman sekitar Rp5,6 triliun
  • Gaji dan tunjangan karyawan sekitar Rp3,6 triliun
  • Biaya iklan dan pemasaran sekitar Rp1,7 triliun
  • Pengeluaran teknologi informasi sekitar Rp1,6 triliun
  • Insentif kepada pelanggan sekitar Rp1,1 triliun

Kelima komponen tersebut menyumbang lebih dari 70 persen dari total beban usaha perusahaan.

Besarnya biaya operasional ini mencerminkan karakter bisnis teknologi berbasis ekosistem yang membutuhkan investasi besar untuk mempertahankan pertumbuhan dan memperluas pangsa pasar.

Akumulasi Kerugian Capai Rp215 Triliun

Walaupun kerugian tahunan mulai menurun, secara historis GoTo masih menanggung beban kerugian yang cukup besar. Hingga akhir 2025, akumulasi kerugian perusahaan tercatat mencapai sekitar Rp215 triliun.

Baca Juga  IHSG Bursa Efek Indonesia Menguat Hari Ini

Besarnya angka tersebut merupakan akumulasi dari berbagai fase ekspansi yang dilakukan perusahaan sejak awal berdiri, termasuk investasi besar untuk membangun jaringan transportasi online, e-commerce, logistik, hingga layanan keuangan digital.

Menuju Jalur Profitabilitas

Perbaikan kinerja pada 2025 memberi sinyal bahwa GoTo sedang berada di jalur menuju profitabilitas. Perusahaan terus menjalankan berbagai langkah strategis seperti efisiensi biaya operasional, optimalisasi layanan, serta memperkuat monetisasi di dalam ekosistem digitalnya.

Sejumlah pengamat pasar menilai jika tren penurunan kerugian ini berlanjut, GoTo berpeluang semakin mendekati titik impas dalam beberapa tahun ke depan, terutama dengan pertumbuhan layanan finansial digital yang semakin pesat.

Dengan basis pengguna yang besar dan ekosistem layanan yang luas, masa depan perusahaan teknologi ini masih menjadi perhatian utama investor dan pelaku pasar di Indonesia.

Baca selengkapnya disini
JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait