JurnalLugas.Com – Cendekiawan Muslim terkemuka, Muhammad Quraish Shihab, mengingatkan bahwa upaya menciptakan perdamaian tidak boleh mengabaikan prinsip keadilan. Pesan tersebut ia sampaikan dalam ceramah pada peringatan Nuzulul Quran yang digelar di Istana Negara, Jakarta, Selasa malam (10/3/2026).
Dalam acara yang juga dihadiri Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pejabat negara, Prof. Quraish mengulas sejumlah tema penting seperti perdamaian, keadilan, persatuan, serta tanggung jawab kepemimpinan dalam kehidupan berbangsa.
Perdamaian Harus Berjalan Bersama Keadilan
Dalam ceramahnya, Prof. Quraish menekankan bahwa perdamaian yang sejati tidak bisa dicapai dengan mengorbankan keadilan. Menurutnya, kedua nilai tersebut harus berjalan seiring agar masyarakat dapat hidup harmonis.
Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an memberikan pesan kuat agar manusia tetap bersikap adil, bahkan terhadap pihak yang tidak disukai.
“Keinginan untuk hidup damai harus disertai komitmen menegakkan keadilan. Al-Qur’an mengingatkan agar kebencian kepada suatu kelompok tidak membuat seseorang bertindak tidak adil,” ujar Quraish.
Makna Keadilan dalam Berbagai Perspektif
Dalam pemaparannya, mantan Menteri Agama itu juga menjelaskan berbagai definisi keadilan yang berkembang dalam pemikiran manusia.
Secara umum, ia menyebut keadilan sering dimaknai sebagai kemampuan menempatkan sesuatu sesuai dengan posisinya serta memberikan hak kepada pemiliknya secara tepat dan secepat mungkin.
Ia juga menyinggung pandangan filsuf Yunani kuno, Plato, yang pernah berdiskusi tentang makna keadilan. Dalam salah satu pandangan yang berkembang saat itu, keadilan disebut sebagai keberpihakan kepada pihak yang kuat. Namun, Plato sendiri tidak sepenuhnya menyetujui definisi tersebut.
Menurut Quraish, sebagian ulama Islam kemudian menafsirkan konsep itu secara berbeda dengan merujuk pada prinsip kepemimpinan yang menegakkan hak-hak masyarakat.
Teladan Kepemimpinan Abu Bakar
Prof. Quraish mencontohkan pidato bersejarah khalifah pertama umat Islam, Abu Bakar ash-Shiddiq, saat dilantik memimpin umat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Dalam pidato tersebut, Abu Bakar menegaskan bahwa pemimpin bukanlah sosok yang paling sempurna. Ia meminta rakyat untuk mendukung ketika benar dan mengoreksi bila keliru.
Lebih jauh, ia menegaskan prinsip keadilan: pihak yang kuat akan diperlakukan lemah hingga hak orang lain yang diambilnya dikembalikan, sedangkan yang lemah akan diperlakukan kuat sampai haknya dipulihkan.
Bagi Quraish, prinsip tersebut menjadi contoh nyata bagaimana keadilan harus ditegakkan tanpa memandang status sosial atau kekuatan seseorang.
Pesan Khusus untuk Presiden
Di akhir ceramahnya, Prof. Quraish juga menyampaikan pesan langsung kepada Presiden Prabowo agar menjadikan prinsip keadilan sebagai dasar dalam menjalankan pemerintahan.
Ia menilai upaya pemberantasan korupsi akan berjalan efektif apabila dilakukan secara adil dan konsisten dengan nilai-nilai kepemimpinan yang dicontohkan para tokoh Islam terdahulu.
Menurutnya, ketika keadilan ditegakkan dengan sungguh-sungguh, maka perdamaian sosial akan tercipta secara alami dalam kehidupan masyarakat.
“Jika prinsip keadilan itu dijalankan, maka kedamaian juga akan terwujud,” pesannya.
Baca berita selengkapnya di
https://JurnalLugas.Com
(SF)






