Serangan Drone Hantam Kapal Tanker Raksasa Kuwait di Dubai, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah kapal tanker minyak raksasa milik Kuwait menjadi sasaran serangan drone di perairan Uni Emirat Arab. Insiden ini langsung memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Perusahaan energi milik negara, Kuwait Petroleum Corporation, mengonfirmasi bahwa kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) Al Salmi diserang drone saat berada di Pelabuhan Dubai pada Selasa dini hari, 31 Maret 2026.

Bacaan Lainnya

Serangan terjadi sekitar pukul 00.10 waktu setempat ketika kapal tengah mengangkut muatan penuh minyak mentah. Dampaknya, bagian lambung kapal mengalami kerusakan dan memicu kebakaran di atas dek.

Dalam keterangan resminya yang disampaikan melalui Kantor Berita Kuwait (KUNA), pihak perusahaan menyebut situasi sempat kritis. “Terjadi kerusakan pada badan kapal dan api sempat menyala di area atas kapal, namun tim darurat langsung bergerak cepat,” demikian pernyataan singkat yang dikutip.

Kuwait Petroleum juga mengingatkan adanya potensi kebocoran minyak ke perairan sekitar. Saat ini, tim tanggap darurat masih berupaya memadamkan api sekaligus mengantisipasi dampak lingkungan yang lebih luas dengan berkoordinasi bersama otoritas pelabuhan Dubai.

Baca Juga  Iran Murka! Teheran Resmi Tuding AS Dalangi Kerusuhan, Surat Tegas Dikirim ke Sekjen PBB

Meski demikian, perusahaan memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Fokus utama saat ini adalah memastikan keamanan kapal serta meminimalkan risiko pencemaran laut.

Dampak dari serangan ini langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah berjangka di New York Mercantile Exchange (Nymex) melonjak lebih dari 3 persen, mencapai 106,05 dolar AS per barel pada perdagangan Selasa malam waktu GMT.

Sementara itu, minyak mentah jenis Brent juga mengalami kenaikan signifikan, diperdagangkan di level 115,35 dolar AS per barel atau naik sekitar 2,57 persen.

Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap terganggunya jalur distribusi energi di kawasan Teluk, yang selama ini menjadi salah satu pusat pasokan minyak dunia.

Eskalasi konflik di Timur Tengah sendiri terus meningkat sejak akhir Februari lalu, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari seribu orang dan memicu reaksi keras dari Teheran.

Baca Juga  Ali Mohammad Naini Iran Blokir Ekspor Minyak Timur Tengah ke AS dan Sekutunya

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan sejumlah wilayah strategis, termasuk Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Serangan balasan tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memperparah ketidakpastian global, khususnya di sektor energi dan transportasi udara internasional.

Analis energi menilai, insiden terhadap kapal tanker ini menjadi sinyal serius bahwa jalur distribusi minyak kini berada dalam risiko tinggi. “Pasar merespons cepat setiap gangguan di kawasan Teluk karena dampaknya bisa langsung ke pasokan global,” ujar seorang analis yang dikutip singkat.

Dengan situasi yang terus berkembang, pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan dari negara-negara terkait serta upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan yang berpotensi memicu krisis energi lebih luas.

Baca selengkapnya di: https://JurnalLugas.Com

HD

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait