Heboh Rekrutmen 30 Ribu Manajer Kopdes, Ekonom Bisa Picu Masalah Baru di Desa

JurnalLugas.Com — Program rekrutmen 30 ribu manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang dibuka pemerintah menuai perhatian dari kalangan ekonom. Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai program tersebut berpotensi menghadapi tantangan serius jika tidak diiringi dengan kesesuaian keterampilan sumber daya manusia (SDM) dengan kebutuhan riil di lapangan.

Menurut Yusuf, program ini memang membuka peluang besar bagi tenaga kerja terdidik. Namun, ia mengingatkan bahwa posisi manajer koperasi membutuhkan kemampuan manajerial dan pengalaman bisnis yang tidak sederhana.

Bacaan Lainnya

“Dengan kriteria yang relatif umum dari berbagai jurusan tanpa pengalaman bisnis yang kuat, program ini cenderung seperti rekrutmen fresh graduate dalam skala besar,” ujar Yusuf dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Risiko Kesenjangan Kompetensi di Lapangan

Yusuf menilai, kriteria rekrutmen yang terlalu umum berpotensi menimbulkan kesenjangan antara kemampuan tenaga kerja yang direkrut dengan kompleksitas tugas yang akan dihadapi di lapangan.

Menurutnya, para manajer Kopdes Merah Putih nantinya tidak hanya menjalankan administrasi, tetapi juga harus menghadapi dinamika usaha riil seperti pengelolaan likuiditas, rantai pasok, hingga kewajiban kredit.

“Manajer koperasi akan langsung berhadapan dengan tantangan bisnis yang kompleks. Jika tidak dibekali kemampuan yang tepat, program ini berisiko tidak optimal,” jelasnya.

Prinsip Dasar Koperasi Harus Dijaga

Selain itu, Yusuf juga mengingatkan pentingnya menjaga prinsip koperasi sebagai organisasi berbasis anggota. Ia menilai keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan manajerial, tetapi juga pemahaman terhadap nilai dasar koperasi.

“Koperasi pada dasarnya organisasi berbasis anggota dengan prinsip partisipasi dan kepemilikan bersama. Ini harus menjadi fondasi utama,” kata Yusuf.

Skema Kontrak Dinilai Kurang Menarik

Yusuf juga menyoroti daya tarik program dari sisi pasar tenaga kerja. Skema kontrak dua tahun dengan masa depan yang belum jelas dinilai kurang kompetitif dibandingkan pekerjaan lain yang menawarkan stabilitas lebih baik.

Dalam kondisi tersebut, ia mengingatkan adanya potensi risiko dalam proses seleksi tenaga kerja.

“Risikonya adalah adverse selection, yakni yang masuk bukan talenta terbaik, tetapi mereka yang tidak memiliki alternatif pekerjaan lebih baik,” ujarnya.

Dampak Urbanisasi Dinilai Sementara

Program ini juga dikaitkan dengan upaya pemerintah menekan laju urbanisasi melalui penempatan tenaga kerja di desa. Namun Yusuf menilai dampaknya kemungkinan hanya bersifat sementara.

Menurutnya, tanpa fondasi bisnis koperasi yang kuat, tenaga kerja yang ditempatkan berpotensi kembali ke kota setelah masa kontrak berakhir.

“Efek terhadap urbanisasi kemungkinan hanya sementara, bukan perubahan struktural,” jelasnya.

Rekrutmen 30 Ribu Manajer Kopdes Dibuka

Pemerintah resmi membuka rekrutmen 30.000 formasi manajer Kopdes Merah Putih pada 15–24 April 2026. Peserta yang lolos seleksi akan bekerja di bawah PT Agrinas Pangan Nusantara dengan skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) selama dua tahun.

Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi desa melalui koperasi modern yang dikelola secara profesional. Namun, para pengamat menilai keberhasilan program sangat bergantung pada kualitas SDM yang direkrut serta kesiapan ekosistem bisnis di desa.

Jika tidak dirancang dengan matang, program besar ini berisiko hanya menjadi proyek jangka pendek tanpa dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Baca berita ekonomi terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(SF)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait