JurnalLugas.Com — Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dinilai mampu menjadi penggerak baru bagi pertumbuhan desa wisata dan pelaku UMKM di berbagai daerah. Kehadiran koperasi berbasis masyarakat itu diyakini dapat memperkuat ekonomi lokal sekaligus menciptakan sistem pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan bahwa desa wisata dan koperasi memiliki keterkaitan kuat karena sama-sama bertumpu pada partisipasi warga serta manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri peresmian operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto di Desa Nglawak, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Menurut Ni Luh, penguatan koperasi desa bukan sekadar program ekonomi, tetapi juga menjadi strategi memperluas peluang usaha masyarakat di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Penguatan koperasi sangat penting untuk membuka peluang usaha masyarakat desa dan mendorong UMKM berkembang lebih luas,” ujar Ni Luh dalam keterangannya.
Desa Wisata Dinilai Punya Potensi Besar
Pengembangan desa wisata selama ini terbukti mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Kehadiran koperasi disebut dapat memperkuat rantai ekonomi lokal mulai dari pengelolaan produk wisata, kuliner khas, homestay, kerajinan tangan, hingga promosi destinasi berbasis komunitas.
Sinergi antara koperasi dan desa wisata juga diyakini mampu menciptakan dampak jangka panjang berupa:
- Pemberdayaan ekonomi masyarakat desa
- Peningkatan daya saing UMKM lokal
- Pelestarian budaya dan lingkungan
- Pembukaan lapangan kerja baru
- Penguatan promosi wisata berbasis komunitas
Model pengembangan seperti ini dinilai sejalan dengan konsep pariwisata berkualitas yang kini menjadi fokus pemerintah, yakni pariwisata yang tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi langsung kepada warga setempat.
Puluhan Koperasi Sudah Terhubung dengan Desa Wisata
Dari total 1.061 koperasi yang mulai beroperasi, sebanyak 30 koperasi diketahui memiliki keterkaitan langsung dengan desa wisata dan telah masuk ke dalam Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata.
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa desa kini tidak hanya diposisikan sebagai lokasi wisata, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan.
Kolaborasi lintas kementerian juga terus diperkuat. Kementerian Pariwisata bersama Kementerian Koperasi menyiapkan berbagai data potensi destinasi wisata, kampung wisata, hingga kelompok masyarakat yang dapat dikembangkan melalui skema koperasi.
Data itu nantinya menjadi dasar pengembangan usaha yang disesuaikan dengan karakter lokal masing-masing daerah agar koperasi tidak berjalan tanpa arah.
Fokus pada Produk Wisata dan Infrastruktur Pendukung
Selain penguatan kelembagaan, pemerintah juga menyiapkan pendampingan pengembangan produk wisata yang dikelola koperasi. Produk tersebut mencakup paket wisata, kuliner lokal, produk ekonomi kreatif, hingga layanan pendukung pariwisata lainnya.
Tidak hanya itu, penguatan sarana dan prasarana pendukung juga menjadi perhatian agar koperasi desa mampu tumbuh secara berkelanjutan dan memiliki fondasi usaha yang kuat.
Pengamat ekonomi desa menilai langkah ini dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi berbasis komunitas, terutama di tengah meningkatnya minat wisatawan terhadap destinasi yang menawarkan pengalaman autentik dan budaya lokal.
Dengan dukungan koperasi, desa wisata diproyeksikan tidak lagi sekadar menjadi tujuan rekreasi, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi rakyat yang mampu menciptakan kesejahteraan secara merata.
Baca berita dan informasi lainnya di JurnalLugas.Com
(Soefriyanto)






