BNI Bukukan Laba Rp5,6 Triliun di Kuartal I 2026, Kredit dan Dana Murah Jadi Penopang Utama

JurnalLugas.Com — Kinerja sektor perbankan nasional kembali menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Salah satu sorotan datang dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI yang berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun pada kuartal I 2026.

Capaian tersebut ditopang oleh akselerasi penyaluran kredit yang solid serta penguatan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) yang terus mengalami pertumbuhan signifikan.

Bacaan Lainnya

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa strategi kehati-hatian tetap menjadi fondasi utama perusahaan dalam menjaga kinerja.

Ia menyampaikan bahwa BNI mampu mempertahankan pertumbuhan positif di tengah kondisi global yang penuh tekanan.

“Perseroan menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang disiplin,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.

Dana Murah Tumbuh Kuat, Jadi Penopang Likuiditas

Salah satu faktor penting yang mendorong kinerja BNI adalah lonjakan dana murah. Pada Maret 2026, CASA tercatat tumbuh 26,6 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp731,6 triliun.

Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan giro yang melesat hampir 40 persen, serta tabungan yang juga mencatat peningkatan stabil di atas 10 persen.

Penguatan struktur dana ini membuat posisi likuiditas BNI semakin sehat dan efisien, sekaligus memperkuat basis Dana Pihak Ketiga (DPK).

Kredit Tumbuh Dua Digit, Dorong Aktivitas Ekonomi

Seiring menguatnya dana pihak ketiga, penyaluran kredit BNI juga mencatat pertumbuhan tinggi. Total kredit yang disalurkan mencapai Rp919,3 triliun, tumbuh lebih dari 20 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut merata di segmen korporasi maupun ritel, yang menunjukkan peran BNI dalam mendukung aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

Pertumbuhan kredit yang kuat ini juga berdampak pada peningkatan pendapatan bunga bersih (NII) yang naik lebih dari 12 persen, disusul pendapatan non-bunga yang turut tumbuh pada kisaran yang sama.

Fundamental Semakin Kuat, Risiko Terkendali

Dari sisi kualitas aset, BNI mencatat perbaikan yang cukup konsisten. Rasio kredit bermasalah (NPL) turun menjadi sekitar 1,9 persen, sementara Loan at Risk juga membaik dibanding periode sebelumnya.

Biaya kredit berada pada level yang tetap terjaga, menandakan manajemen risiko berjalan efektif di tengah ekspansi kredit yang agresif.

Rasio likuiditas dan permodalan juga berada pada level yang kuat. Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat di bawah 90 persen, sedangkan rasio kecukupan modal jauh di atas ketentuan regulator, memberikan ruang ekspansi yang lebih luas.

Perkuat Modal Lewat Instrumen Global

Untuk memperkuat struktur permodalan, BNI juga menerbitkan instrumen Additional Tier-1 (AT1) senilai sekitar 700 juta dolar AS pada April 2026.

Langkah ini mendapatkan respons positif dari investor global dengan tingkat permintaan yang jauh melebihi nilai penawaran.

Manajemen BNI menyebut langkah tersebut sebagai strategi untuk menjaga fleksibilitas bisnis jangka panjang sekaligus memperkuat daya tahan bank dalam menghadapi gejolak ekonomi global.

Transformasi Bisnis dan Fokus Keberlanjutan

Selain aspek finansial, BNI juga terus mendorong transformasi organisasi melalui penguatan jaringan operasional di berbagai wilayah.

Inisiatif transformasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas kantor cabang hingga level paling bawah, sekaligus memperkuat layanan kepada nasabah.

Di sisi lain, BNI juga menegaskan komitmennya terhadap pembiayaan berkelanjutan. Bank pelat merah ini telah menerbitkan berbagai instrumen hijau seperti green bond dan sustainability bond sebagai bagian dari dukungan terhadap transisi ekonomi rendah karbon.

Peran Strategis dalam Ekonomi Nasional

BNI menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung agenda pembangunan nasional, termasuk di sektor pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, hingga penguatan ekonomi desa.

Fokus tersebut diwujudkan melalui penyaluran kredit yang lebih terarah serta digitalisasi layanan perbankan agar program pembangunan dapat berjalan lebih efektif.

Dengan kombinasi pertumbuhan bisnis yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta strategi transformasi berkelanjutan, BNI menatap sisa tahun 2026 dengan optimisme tinggi di tengah dinamika ekonomi global.

Baca berita lainnya JurnalLugas.Com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait