JurnalLugas.Com — Di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan usaha mikro, gelombang penipuan digital justru ikut menunggangi momentum tersebut. Kali ini, nama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab melalui penawaran Kredit Usaha Rakyat (KUR) palsu di media sosial dan tautan tidak resmi.
Fenomena ini bukan sekadar gangguan digital biasa. Berdasarkan penelusuran di berbagai platform, pola penipuan semakin rapi—menggunakan identitas visual menyerupai bank, hingga menjanjikan pencairan instan tanpa prosedur jelas. Praktik ini menyasar pelaku UMKM yang membutuhkan akses cepat ke pembiayaan.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa seluruh informasi KUR yang beredar melalui jalur tidak resmi tersebut dipastikan bukan berasal dari BRI.
“Kami pastikan itu bukan bagian dari layanan resmi. Pengajuan KUR hanya dilakukan melalui jaringan kerja BRI yang sah dan tidak pernah meminta biaya di awal,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Modus Baru, Tautan Palsu dan Janji Pencairan Kilat
Investigasi terhadap sejumlah tautan yang beredar menunjukkan adanya upaya phishing di mana korban diarahkan untuk mengisi data pribadi seperti nomor rekening, PIN, hingga kode OTP. Dalam banyak kasus, korban baru menyadari setelah saldo rekening terkuras.
BRI secara tegas menyatakan tidak pernah meminta data sensitif nasabah dalam kondisi apa pun. Permintaan semacam itu merupakan indikator kuat adanya kejahatan digital.
“Jika ada pihak yang meminta PIN, password, atau OTP, itu jelas bukan dari kami,” tegas Akhmad.
Saluran Resmi dan Prosedur Aman
Untuk menghindari jebakan penipuan, masyarakat diimbau hanya mengakses layanan melalui kanal resmi BRI, seperti situs utama perusahaan serta akun media sosial terverifikasi. Selain itu, pengajuan KUR dapat dilakukan langsung melalui kantor cabang, unit layanan BRI, maupun agen resmi BRILink.
Langkah ini penting mengingat banyak pelaku kejahatan digital memanfaatkan kelengahan pengguna internet yang tergiur proses cepat tanpa verifikasi.
Literasi Keuangan Jadi Benteng Utama
Di sisi lain, BRI terus memperkuat edukasi literasi keuangan sebagai langkah preventif. Program ini menyasar masyarakat luas agar lebih cermat dalam mengenali ciri-ciri penipuan digital yang semakin berkembang.
Selain edukasi, BRI juga aktif berkoordinasi dengan otoritas terkait guna menindak pelaku penyalahgunaan nama perusahaan. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen menjaga kepercayaan publik sekaligus memperkuat sistem keamanan perbankan nasional.
Dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik, BRI menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi mitra terpercaya bagi pelaku usaha di Indonesia tanpa celah bagi praktik kejahatan digital.
Untuk informasi terpercaya dan pembaruan berita lainnya, kunjungi: https://JurnalLugas.Com
(SF)






