JurnalLugas.Com – Harga minyak mentah dunia kembali mencatat kenaikan pada penutupan perdagangan Senin (20/7/2026) setelah bergerak naik turun sepanjang sesi.
Sentimen geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong penguatan harga, meski pasar juga mulai memperhitungkan peluang dibukanya kembali jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Perdagangan berlangsung cukup volatil karena investor terus memantau perkembangan situasi keamanan di kawasan yang menjadi salah satu pusat produksi energi global.
Ketegangan yang meningkat dinilai berpotensi mengganggu pasokan minyak, sehingga mendorong pelaku pasar kembali memburu aset energi.
Minyak mentah Brent ditutup menguat 1,3 persen ke level USD89,22 per barel. Selama perdagangan, harga bahkan sempat menyentuh USD91,42 per barel, menjadi posisi tertinggi sejak 11 Juni.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat naik 0,9 persen menjadi USD83,23 per barel.
Kontrak WTI juga sempat mencapai USD85,39 per barel, level tertinggi sejak 12 Juni.
Ketegangan Timur Tengah Kembali Mengguncang Pasar
Penguatan harga minyak terjadi setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas pada akhir pekan.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya distribusi minyak dari kawasan tersebut.
Di saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman mengumumkan pemberlakuan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Kebijakan itu menambah kekhawatiran mengenai keamanan jalur pelayaran yang selama ini menjadi salah satu rute penting perdagangan energi dunia.
Di sisi lain, laporan mengenai aksi militer terbaru antara Amerika Serikat dan Iran turut memperbesar ketidakpastian. Eskalasi tersebut membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam mengambil posisi.
Harapan Diplomasi Masih Menjadi Penahan Lonjakan Harga
Meski ketegangan meningkat, sebagian investor masih melihat adanya peluang dimulainya kembali dialog antara Amerika Serikat dan Iran.
Harapan terhadap jalur diplomasi menjadi salah satu faktor yang menahan kenaikan harga agar tidak bergerak lebih tajam.
Analis pasar energi menilai perkembangan negosiasi kedua negara akan menjadi penentu arah harga minyak dalam beberapa pekan mendatang.
Jika pembicaraan berjalan positif, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dapat berkurang. Sebaliknya, jika konflik terus meluas, tekanan kenaikan harga diperkirakan masih akan berlanjut.
“Pasar saat ini bereaksi cepat terhadap setiap perkembangan geopolitik karena risiko terhadap pasokan energi global masih sangat tinggi,” ujar seorang analis pasar energi.
Kenaikan harga minyak dunia menjadi perhatian karena dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi, mulai dari biaya logistik, harga energi, hingga tekanan inflasi.
Indonesia sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah juga berpotensi merasakan dampak apabila tren kenaikan harga berlangsung dalam waktu yang lama.
Pemerintah biasanya terus memantau perkembangan harga minyak internasional sebagai salah satu dasar dalam menyusun kebijakan energi, menjaga stabilitas pasokan, serta mengendalikan dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Dengan kondisi geopolitik yang masih dinamis, pelaku pasar diperkirakan akan tetap mencermati setiap perkembangan di Timur Tengah maupun peluang tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat menentukan arah harga minyak dunia ke depan.
Baca berita ekonomi, bisnis, dan energi terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
(Hans)






