JurnalLugas.Com – Harga emas dunia kembali bergerak di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (20/7/2026) waktu setempat.
Meski penurunannya relatif terbatas, tekanan terhadap logam mulia muncul seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Investor memilih bersikap hati-hati setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Kondisi tersebut mendorong pergerakan pasar keuangan global menjadi lebih fluktuatif, termasuk perdagangan komoditas emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Pada perdagangan Selasa (21/7/2026), harga emas spot tercatat turun 0,2 persen menjadi USD4.008,88 per ons. Sementara itu, emas berjangka AS juga melemah 0,1 persen ke posisi USD4.013,22 per ons.
Pelemahan tersebut melanjutkan tren koreksi setelah harga emas sempat turun lebih dari dua persen sepanjang pekan sebelumnya.
Dolar AS Menguat, Emas Kehilangan Momentum
Tekanan terhadap harga emas terutama dipicu oleh penguatan dolar AS. Ketika nilai tukar dolar meningkat, harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaan cenderung melambat.
Analis pasar menilai penguatan dolar kali ini dipengaruhi meningkatnya permintaan investor terhadap aset-aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Pergerakan emas saat ini sangat dipengaruhi kombinasi penguatan dolar AS dan perkembangan konflik di Timur Tengah,” ujar seorang analis pasar logam mulia.
Konflik AS-Iran Kembali Menjadi Sorotan
Sentimen geopolitik menjadi perhatian utama pelaku pasar setelah Amerika Serikat melanjutkan operasi militernya terhadap Iran hingga hari ke-10 berturut-turut.
Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi atas tewasnya tiga personel militer AS.
Pernyataan tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan yang selama ini menjadi pusat produksi energi dunia.
Ketidakpastian tersebut membuat investor terus memantau setiap perkembangan diplomatik maupun militer yang dapat memengaruhi arah pasar global.
Pasar Menunggu Arah Baru Pekan Ini
Selain perkembangan konflik, pelaku pasar juga mencermati minimnya agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat sepanjang pekan ini.
Kondisi tersebut membuat perhatian investor lebih terfokus pada perkembangan geopolitik.
Di sisi lain, dimulainya periode blackout Federal Reserve menjelang rapat kebijakan membuat pejabat bank sentral AS tidak memberikan pernyataan publik mengenai arah suku bunga. Situasi ini diperkirakan akan membuat pergerakan harga emas lebih sensitif terhadap sentimen eksternal.
Jika ketegangan di Timur Tengah meningkat, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas berpotensi kembali menguat.
Namun, apabila dolar AS terus menguat dan risiko geopolitik mulai mereda, harga emas diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini menunggu perkembangan terbaru dari konflik di Timur Tengah sebagai faktor utama yang diperkirakan akan menentukan arah pergerakan harga emas dunia dalam beberapa hari mendatang.
Baca berita ekonomi, investasi, dan pasar komoditas terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
(Endarto)






