JurnalLugas.Com – Kenaikan harga Pertamax memicu perbincangan luas di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Pemerintah menegaskan bahwa penyesuaian harga hanya berlaku untuk bahan bakar nonsubsidi, sementara masyarakat pengguna BBM subsidi tetap memperoleh perlindungan harga dari negara.**
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menjelaskan bahwa Pertamax merupakan bahan bakar yang tidak menerima subsidi pemerintah sehingga mekanisme penetapan harganya mengikuti perkembangan harga minyak mentah di pasar internasional.
Menurutnya, lonjakan harga energi dunia yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir tidak dapat dihindari dampaknya terhadap produk BBM nonsubsidi. Namun pemerintah memilih menahan penyesuaian harga dalam periode yang cukup panjang sebelum akhirnya melakukan perubahan tarif.
“Pertamax mengikuti dinamika pasar global karena bukan BBM subsidi. Sementara untuk Pertalite dan Solar, pemerintah tetap menjaga harga agar tidak berubah,” ujar Teddy dalam keterangannya, Jumat 12 Juni 2026.
Janji Pertalite dan Solar Tetap Tidak Berubah
Di tengah kenaikan harga energi global, pemerintah memastikan dua jenis BBM yang paling banyak digunakan masyarakat masih dipertahankan pada level sebelumnya.
Harga Pertalite tetap berada di angka Rp10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi bertahan pada Rp6.800 per liter. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah menjaga daya beli masyarakat sekaligus meredam dampak kenaikan harga energi internasional terhadap aktivitas ekonomi domestik.
Keputusan mempertahankan harga BBM subsidi juga menjadi sinyal bahwa pemerintah masih memberikan prioritas perlindungan kepada kelompok masyarakat yang bergantung pada bahan bakar bersubsidi untuk kebutuhan sehari-hari.
Klaim Pertamax Masih Lebih Murah Dibanding Negara Tetangga
Meski mengalami penyesuaian dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026, pemerintah menilai harga Pertamax masih relatif kompetitif dibandingkan BBM dengan kualitas setara di sejumlah negara Asia Tenggara.
Data yang dipublikasikan Sekretariat Kabinet menunjukkan harga BBM RON 92/95 di beberapa negara kawasan berada pada level yang lebih tinggi. Di Filipina misalnya mencapai sekitar Rp22 ribu per liter, Thailand hampir Rp29 ribu per liter, Myanmar sekitar Rp25 ribu per liter, Laos menembus Rp31 ribu per liter, sementara Singapura berada di kisaran Rp42 ribu per liter.
Perbandingan tersebut digunakan pemerintah untuk menunjukkan bahwa harga Pertamax di Indonesia masih berada di bawah rata-rata harga bahan bakar sejenis di kawasan regional meskipun telah mengalami kenaikan.
Kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa bulan terakhir dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi tersebut memengaruhi pasokan energi global dan mendorong harga minyak bergerak naik secara signifikan.
Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak dan produk energi tertentu turut merasakan dampak fluktuasi tersebut. Karena itu, produk BBM nonsubsidi yang mengikuti harga pasar internasional menjadi sektor pertama yang mengalami penyesuaian.
Pemerintah menilai langkah tersebut diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional tanpa mengganggu skema subsidi yang selama ini dinikmati masyarakat.
Kenaikan Harga BBM Jadi Sorotan Aksi Mahasiswa
Penyesuaian harga Pertamax juga menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam aksi unjuk rasa mahasiswa di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Sejumlah kelompok mahasiswa menyuarakan berbagai tuntutan terkait kondisi ekonomi nasional, termasuk persoalan harga bahan bakar.
Namun pemerintah menegaskan bahwa tuntutan terkait kenaikan BBM perlu dilihat secara menyeluruh karena perubahan harga saat ini hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi. Sementara produk yang mendapat subsidi negara tetap dipertahankan pada harga lama.
Dengan demikian, mayoritas masyarakat pengguna Pertalite dan Solar belum terdampak langsung oleh kenaikan harga Pertamax yang berlaku sejak pekan ini.
Baca berita nasional dan ekonomi lainnya di JurnalLugas.Com.
(Soefriyanto)






