JurnalLugas.Com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta pemerintah daerah di berbagai wilayah Indonesia meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Juni 2026.
Ancaman hujan lebat, angin kencang, hingga risiko banjir menjadi perhatian utama menyusul peringatan dini yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Berdasarkan pemantauan cuaca terbaru, sedikitnya 26 provinsi masuk dalam wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang.
Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga 26 Juni 2026 dan berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi.
BNPB menilai langkah mitigasi harus dilakukan sejak dini untuk meminimalkan dampak yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat maupun merusak infrastruktur.
Pemerintah daerah diminta memastikan saluran air, drainase, dan sistem pengendalian banjir berada dalam kondisi optimal.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menekankan pentingnya kesiapan daerah dalam menghadapi perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memastikan aliran drainase berjalan normal dan mengingatkan masyarakat agar tidak beraktivitas di sekitar sungai maupun kawasan rawan longsor ketika hujan deras terjadi.
Wilayah yang masuk dalam peringatan dini meliputi Aceh, Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jambi, Jawa Timur, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Maluku, dan Maluku Utara.
Selain itu, potensi cuaca ekstrem juga diperkirakan terjadi di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, serta sejumlah provinsi di Tanah Papua, termasuk Papua, Papua Barat, Papua Selatan, dan Papua Tengah.
BNPB mencontohkan dampak nyata cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu lalu di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.
Hujan deras yang menyebabkan luapan Sungai Sekadau mengakibatkan ribuan rumah warga terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai dua meter di sejumlah titik.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan daerah memiliki peran penting dalam mengurangi risiko kerugian yang lebih besar ketika bencana terjadi.
Di sisi lain, BNPB juga menyoroti fenomena cuaca yang berbeda di sejumlah wilayah Indonesia. Saat sebagian daerah menghadapi ancaman hujan deras, beberapa kawasan justru mulai memasuki periode kering atau hari tanpa hujan.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Kondisi tersebut menuntut pemerintah daerah untuk memperkuat pengelolaan cadangan air bersih agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama musim kering berlangsung.
Abdul Muhari mengingatkan bahwa daerah yang mulai mengalami kekeringan perlu mengatur distribusi air secara efektif.
Masyarakat juga diminta segera melapor kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) apabila mengalami kesulitan memperoleh pasokan air bersih.
Dengan kondisi cuaca yang bervariasi di berbagai wilayah Indonesia, BNPB mengajak seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Langkah mitigasi sejak dini dinilai menjadi kunci dalam menghadapi ancaman bencana, baik yang dipicu hujan ekstrem maupun kekeringan.
Informasi cuaca terkini dan kesiapsiagaan menghadapi bencana menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan masyarakat di tengah dinamika iklim yang semakin tidak menentu.
Baca berita nasional terbaru lainnya di JurnalLugas.Com: https://jurnallugas.com
(Catur)






