Teknologi PM-AAS Dongkrak Produktivitas Padi hingga 12,4 Ton per Hektare

JurnalLugas.Com – Pemerintah terus mempercepat transformasi sektor pertanian melalui penerapan teknologi budidaya modern guna meningkatkan produksi beras nasional.

Salah satu inovasi yang kini menjadi andalan adalah Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS), sebuah metode yang diklaim mampu mendongkrak hasil panen padi hingga mencapai 12,4 ton per hektare.

Bacaan Lainnya

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan teknologi tersebut merupakan hasil pengembangan dan pengujian lapangan selama hampir dua tahun.

Berdasarkan hasil implementasi, produktivitas padi yang sebelumnya berkisar 5 hingga 6 ton per hektare mampu meningkat menjadi minimal 10 ton, bahkan pada sejumlah lahan uji mencapai 12,4 ton per hektare.

“Target kami minimal 10 ton per hektare, dan hasil uji di lapangan sudah menyentuh 12,4 ton. Ini menjadi langkah penting memperkuat swasembada pangan,” ujar Amran dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Amran, PM-AAS menggabungkan berbagai pendekatan modern, mulai dari pengalaman penerapan sistem jajar legowo di Indonesia, teknik budidaya yang dipelajari di Arkansas, Amerika Serikat, hingga pemanfaatan teknologi pertanian presisi yang berkembang di China.

Melalui perpaduan tersebut, pemerintah berharap produktivitas lahan meningkat tanpa harus menambah luas areal tanam secara signifikan.

Sistem PM-AAS dibangun di atas tiga konsep utama, yakni pengaturan jarak tanam untuk memaksimalkan proses fotosintesis, peningkatan populasi tanaman melalui pola tanam berkelanjutan, serta penggunaan teknologi presisi agar kebutuhan pupuk, air, dan sarana produksi menjadi lebih efisien.

Amran menjelaskan, populasi rumpun padi dalam satu hektare dapat meningkat drastis dari sekitar 300 ribu hingga 360 ribu rumpun menjadi 800 ribu sampai satu juta rumpun.

Dengan jumlah tanaman yang jauh lebih banyak, peluang peningkatan produksi pun menjadi semakin besar.

“Efisiensi biaya juga menjadi keuntungan. Penggunaan pupuk dan air lebih hemat, sementara hasil panen meningkat sehingga pendapatan petani ikut bertambah,” katanya.

Kementerian Pertanian meyakini peningkatan produktivitas merupakan fondasi utama menjaga swasembada beras secara berkelanjutan.

Bahkan, pemerintah mulai menyiapkan langkah lanjutan agar Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki surplus produksi untuk pasar ekspor.

Untuk mempercepat penerapan metode tersebut, pemerintah akan memperkuat pendampingan kepada petani melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL).

Dukungan benih unggul, pelatihan teknis, hingga pengawalan di wilayah irigasi menjadi fokus implementasi PM-AAS hingga tahun 2029.

“Seluruh penyuluh harus bergerak bersama agar teknologi ini benar-benar meningkatkan produksi nasional,” tegas Amran.

Optimisme terhadap teknologi PM-AAS juga mendapat perhatian Presiden Prabowo Subianto. Saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Presiden menilai berbagai inovasi yang dikembangkan di sektor pertanian menjadi modal besar bagi Indonesia menuju lumbung pangan dunia.

“Hasil inovasi yang ditampilkan sangat revolusioner dan memberi harapan besar bagi masa depan pertanian Indonesia,” ujar Presiden Prabowo.

Dengan kombinasi inovasi teknologi, efisiensi budidaya, serta pendampingan yang berkelanjutan, pemerintah berharap produktivitas padi nasional terus meningkat sehingga ketahanan pangan semakin kuat dan kesejahteraan petani ikut terdongkrak.

Baca berita pertanian, ekonomi, dan nasional terbaru lainnya di JurnalLugas.Com.

(William)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Stok Beras RI Tembus Rekor 5,3 Juta Ton, Pemerintah Peringatkan Pelaku Permainan Harga

Pos terkait