JurnalLugas.Com – Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menuduh Iran berupaya memanfaatkan Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan geopolitik terhadap komunitas internasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio menjelang keberangkatannya menghadiri pertemuan para Menteri Luar Negeri ASEAN di Filipina.
Menurutnya, jalur laut yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia itu memiliki posisi strategis sehingga setiap potensi gangguan akan berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global.
“Ada pihak di Iran yang ingin menjadikan Selat Hormuz sebagai alat untuk memberikan tekanan kepada dunia,” ujar Rubio, Minggu 19 Juli 2026.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak mentah dan gas alam dari kawasan Teluk menuju berbagai negara.
Setiap peningkatan tensi keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi internasional, biaya logistik, hingga pergerakan harga minyak di pasar global.
Karena itu, berbagai negara terus memantau perkembangan situasi di wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga kelancaran perdagangan internasional.
Rubio menegaskan Amerika Serikat akan tetap menjalankan perannya dalam menjaga keamanan pelayaran internasional. Namun, ia menilai tanggung jawab tersebut tidak seharusnya hanya dipikul oleh Washington.
Menurutnya, negara-negara mitra juga perlu meningkatkan kontribusi, baik melalui dukungan logistik, kemampuan pertahanan, maupun pendanaan, agar keamanan jalur pelayaran strategis dapat terjaga secara kolektif.
“Keamanan pelayaran global merupakan tanggung jawab bersama dan memerlukan kontribusi dari banyak negara,” kata Rubio.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Rubio mengatakan pemerintah Amerika Serikat masih membuka ruang dialog dengan Iran.
Ia menyebut terdapat sinyal dari Teheran yang menunjukkan keinginan untuk kembali ke meja perundingan guna mencari penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Meski demikian, Rubio mengingatkan bahwa apabila diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan, situasi berpotensi berkembang ke arah yang lebih kompleks dan merugikan seluruh pihak.
Dalam kesempatan yang sama, Rubio juga memberikan penjelasan mengenai insiden yang menewaskan seorang personel militer Amerika Serikat di Irak.
Menurutnya, peristiwa tersebut terjadi saat proses peledakan terkendali terhadap bahan peledak yang belum meledak dari sebuah drone Iran yang sebelumnya berhasil dijatuhkan.
Rubio turut menyinggung serangan rudal yang disebut berhasil menembus sistem pertahanan udara Yordania, meski sebagian besar proyektil lainnya diklaim berhasil dicegat.
Pemerintah Amerika Serikat juga menyatakan bahwa operasi militernya terhadap Iran dilakukan sebagai respons atas peluncuran rudal dan drone yang, menurut Washington, mengancam kapal-kapal komersial di kawasan.
Meningkatnya dinamika keamanan di Timur Tengah terus menjadi perhatian komunitas internasional karena kawasan tersebut memiliki peran penting terhadap stabilitas energi, perdagangan, dan keamanan global.
Sejumlah analis menilai penyelesaian melalui jalur diplomatik tetap menjadi pilihan utama untuk mencegah eskalasi yang lebih luas.
Di sisi lain, berbagai negara juga terus memperkuat koordinasi guna memastikan jalur pelayaran internasional tetap aman dan aktivitas perdagangan dunia tidak terganggu.
Ikuti perkembangan berita internasional, geopolitik, dan ekonomi global terbaru hanya di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






