JurnalLugas.Com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga menembus level psikologis USD100 per barel setelah meningkatnya eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan kelompok Houthi di Laut Merah.
Lonjakan harga tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi terganggunya jalur distribusi minyak global, menyusul serangkaian serangan terhadap kapal tanker serta pernyataan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pada perdagangan Kamis (23/7/2026), minyak Brent tercatat naik lebih dari enam persen. Kenaikan itu menjadi yang pertama kali membawa harga kembali ke atas USD100 per barel sejak Mei 2026.
Trump Ancam Respons Militer Lebih Keras
Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan mengambil tindakan tegas apabila kelompok Houthi kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Laut Merah.
Trump menegaskan Washington memandang Houthi sebagai kelompok yang didukung Iran sehingga setiap aksi lanjutan akan menjadi tanggung jawab Teheran.
“Jika serangan kembali terjadi, Iran akan dimintai pertanggungjawaban dan respons militer besar akan diberikan,” tulis Trump melalui media sosialnya, Jumat (24/7/2026).
Dalam pernyataannya, Trump juga mengisyaratkan kemungkinan memperluas operasi militer terhadap Iran sebagai bagian dari strategi menekan ancaman keamanan di kawasan.
Serangan Kapal Tanker Perbesar Kekhawatiran Pasar
Kelompok Houthi mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi, yakni Encelia dan Layla, menggunakan rudal serta pesawat nirawak.
Otoritas Arab Saudi mengonfirmasi kapal Encelia mengalami serangan yang memicu kebakaran di bagian haluan. Sementara laporan mengenai kapal Layla hingga kini masih belum memperoleh konfirmasi independen.
Insiden tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran internasional yang selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Sejumlah laporan menyebut Iran diduga mengirim personel Garda Revolusi, penasihat militer, serta perlengkapan rudal dan drone ke Yaman beberapa hari sebelum Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Namun, Houthi membantah adanya keterlibatan langsung Teheran dalam operasi tersebut.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan operasi militer terhadap sasaran strategis Iran masih terus berlangsung dan telah memasuki malam ke-13 secara berturut-turut.
Media pemerintah Iran kemudian melaporkan adanya serangan balasan yang diarahkan ke fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania dan Kuwait.
Otoritas Yordania menyatakan sebagian besar rudal serta drone berhasil dicegat, sedangkan Kuwait belum melaporkan adanya korban.
Analis menilai kenaikan harga minyak kali ini lebih dipengaruhi oleh meningkatnya premi risiko geopolitik dibanding perubahan fundamental pasokan dan permintaan.
Apabila eskalasi konflik terus meluas hingga mengganggu jalur pelayaran utama di Timur Tengah, volatilitas harga energi diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk negara-negara pengimpor minyak, akibat naiknya biaya energi dan distribusi.
Di tengah meningkatnya ketegangan, DPR Amerika Serikat yang dikuasai Partai Republik sempat menyetujui rancangan undang-undang yang mengarahkan penghentian operasi militer terhadap Iran.
Namun beberapa jam kemudian, Senat menolak rancangan serupa sehingga kebijakan luar negeri dan langkah militer pemerintahan Trump tetap dapat berlanjut sesuai kewenangan eksekutif.
Perkembangan situasi di Timur Tengah kini menjadi perhatian dunia karena berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan kawasan sekaligus mengguncang pasar energi internasional apabila konflik terus mengalami eskalasi.
Baca berita ekonomi global, geopolitik, dan energi terbaru lainnya di https://JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






