Nasaruddin Umar Ajak Umat Islam Doakan Keselamatan Indonesia

JurnalLugas.Com – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam memperkuat doa untuk keselamatan bangsa dan negara di tengah situasi dunia yang masih dibayangi berbagai ketidakpastian.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin ketika menghadiri Zikir Kebangsaan yang digelar Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh Ahlussunnah Wal Jamaah (Jatma Aswaja) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu, 9 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Menurut Nasaruddin, doa bersama menjadi bagian penting dari ikhtiar menjaga Indonesia, terlebih ketika berbagai negara menghadapi tekanan dan perubahan situasi global yang sulit diprediksi.

Ia mengingatkan jamaah agar tradisi mendoakan keselamatan bangsa terus dipelihara. Bagi Nasaruddin, doa tidak hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga wujud kepedulian terhadap masa depan Indonesia.

“Doa bersama untuk keselamatan bangsa sangat kita perlukan, khususnya dalam kondisi seperti sekarang,” ujar Nasaruddin.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mengajak masyarakat melihat kondisi Indonesia dengan rasa syukur. Ia menilai Indonesia masih memiliki ketahanan ekonomi di tengah tekanan yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Nasaruddin menyinggung angka inflasi nasional yang disebut berada di kisaran 1 hingga 2 persen serta pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen. Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan adanya ketahanan ekonomi yang patut dijaga bersama.

Ia juga membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan sejumlah negara mayoritas Muslim yang menurutnya masih berada di bawah capaian Indonesia.

Bagi Nasaruddin, berbagai indikator tersebut seharusnya tidak hanya menjadi bahan kebanggaan, tetapi juga pengingat agar masyarakat terus menjaga persatuan dan memperkuat kerja sama.

“Prestasi bangsa perlu disyukuri, sekaligus dijaga dengan persatuan dan ikhtiar,” katanya.

Ia menekankan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan. Syukur, menurut Nasaruddin, harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memberikan manfaat kepada orang lain.

Pesan itu pula yang disebut menjadi salah satu landasan pengembangan berbagai kegiatan sosial di Masjid Istiqlal.

Masjid yang menjadi salah satu ikon keislaman Indonesia tersebut didorong untuk tidak berhenti sebagai tempat pelaksanaan ibadah. Istiqlal diharapkan berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat sekaligus pusat pelayanan sosial.

Berbagai fasilitas dan program terus dikembangkan agar masyarakat dapat memperoleh manfaat secara langsung.

Sejumlah layanan bahkan disediakan tanpa biaya, mulai dari makan siang untuk jamaah, tempat menginap, kursus bahasa asing, layanan kesehatan, konsultasi keagamaan dan keluarga, hingga pelatihan yang berkaitan dengan keterampilan ekonomi.

Konsep tersebut diharapkan membuat masjid memiliki peran yang semakin luas dalam kehidupan masyarakat. Fungsi keagamaan tetap menjadi dasar, tetapi keberadaan masjid juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan sosial dan ekonomi umat.

Jatma Aswaja Perkuat Program Ketahanan Pangan

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PB Jatma Aswaja Helmy Faishal Zaini menyampaikan bahwa organisasi tersebut juga berupaya mengambil bagian dalam penguatan ketahanan pangan nasional.

Memasuki tahun kedua sejak berdiri, Jatma Aswaja telah mengembangkan kegiatan pertanian dengan melibatkan petani dari kalangan anggotanya serta sejumlah pemangku kepentingan di daerah.

Menurut Helmy, lahan yang telah dimanfaatkan untuk penanaman padi dan tebu mencapai sekitar 10 ribu hektare.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya organisasi agar pemberdayaan umat tidak hanya bergerak dalam aspek spiritual, tetapi juga menyentuh sektor ekonomi dan pangan.

Helmy berharap aktivitas tersebut dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Menurut dia, kemajuan spiritual idealnya berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi.

“Kami ingin pemberdayaan menjadi energi agar masyarakat tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga berdaya secara ekonomi,” kata Helmy.

Keterlibatan organisasi keagamaan dalam sektor pangan dinilai dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi masyarakat sipil dalam menjaga ketahanan pangan.

Apalagi, persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut kesejahteraan petani dan kemandirian ekonomi masyarakat.

Zikir Kebangsaan di Masjid Istiqlal pun menjadi momentum untuk mempertemukan dua pesan penting: menjaga ketenangan dan persatuan bangsa melalui doa, sekaligus membangun kemandirian melalui kerja nyata.

Di tengah dinamika global yang terus berubah, pesan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari upaya menjaga ketahanan Indonesia.

Doa menjadi penguat spiritual, sementara pemberdayaan dan kerja bersama menjadi bagian dari ikhtiar di lapangan.

Dengan semangat tersebut, Masjid Istiqlal dan Jatma Aswaja diharapkan dapat terus memperluas kontribusinya dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya melalui kegiatan keagamaan, tetapi juga lewat pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi dan dukungan terhadap ketahanan pangan nasional.

Baca berita dan informasi terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

(Soefriyanto)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  KPK Usut Korupsi Kuota Haji 2024 Yaqut Akhirnya Buka Suara

Pos terkait