Efek Samping Obat Pereda Nyeri terhadap Ginjal, Jangan Sembarangan Dikonsumsi Berulang

JurnalLugas.Com – Obat pereda nyeri sering menjadi pilihan pertama ketika sakit kepala, nyeri otot, sakit gigi, nyeri sendi hingga demam mulai mengganggu aktivitas.

Sebagian obat bahkan dapat dibeli tanpa resep. Namun, kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri terlalu sering atau dalam dosis yang tidak sesuai dapat menjadi persoalan tersendiri bagi kesehatan ginjal.

Bacaan Lainnya

Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan pada kelompok obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID, seperti ibuprofen dan naproxen.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), penggunaan NSAID dalam jangka panjang dapat merusak ginjal, sementara penggunaannya ketika tubuh mengalami dehidrasi atau tekanan darah rendah dapat meningkatkan risiko cedera ginjal akut.

Karena itu, obat yang sehari-hari dianggap biasa tetap perlu digunakan dengan aturan yang tepat. Bukan berarti semua obat pereda nyeri berbahaya bagi ginjal, melainkan risiko dapat meningkat tergantung jenis obat, dosis, lama penggunaan dan kondisi kesehatan seseorang.

Mengapa Obat Pereda Nyeri Bisa Memengaruhi Ginjal?

Ginjal bekerja menyaring darah sekaligus mengatur keseimbangan cairan dan berbagai zat di dalam tubuh. Ketika fungsi ginjal terganggu, kemampuan organ tersebut untuk menjalankan tugasnya juga dapat menurun.

Pada kelompok NSAID, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah berkurangnya aliran darah menuju ginjal. National Kidney Foundation menjelaskan bahwa NSAID dapat membahayakan ginjal, terutama jika dikonsumsi dalam dosis tinggi atau digunakan dalam waktu lama.

Risikonya menjadi lebih serius ketika penggunaan obat tersebut berlangsung bersamaan dengan kondisi dehidrasi. Misalnya ketika seseorang mengalami muntah, diare, demam atau kurang minum.

Dalam situasi seperti itu, ginjal sudah menghadapi tekanan akibat berkurangnya cairan tubuh. Penggunaan obat tertentu kemudian dapat semakin meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal.

Jenis Obat Pereda Nyeri yang Perlu Diwaspadai

Tidak semua obat penghilang rasa sakit memiliki risiko yang sama terhadap ginjal. Kelompok yang paling sering mendapat perhatian adalah NSAID.

Beberapa contohnya adalah ibuprofen, naproxen, diclofenac, indomethacin, meloxicam dan celecoxib. Aspirin dalam dosis tertentu juga termasuk kelompok yang perlu diperhatikan.

Masalahnya, nama bahan aktif tersebut tidak selalu menjadi perhatian konsumen. Obat bisa dijual dengan berbagai nama dagang atau menjadi bagian dari obat kombinasi untuk nyeri, demam dan flu.

Karena itu, membaca komposisi atau bahan aktif pada kemasan menjadi langkah sederhana yang cukup penting sebelum mengonsumsi obat.

Siapa yang Lebih Berisiko?

Risiko gangguan ginjal akibat obat pereda nyeri tidak sama pada setiap orang.

Mereka yang sudah mengalami penurunan fungsi ginjal perlu lebih berhati-hati. Begitu pula penderita diabetes dan tekanan darah tinggi. NIDDK secara khusus menyebut kondisi tersebut sebagai faktor yang perlu diperhatikan ketika menggunakan NSAID.

Baca Juga  Apakah Anak Bisa Kena Gangguan Ginjal? Kenali Gejala Awal Sering Tidak Disadari Orang Tua

Orang yang sedang mengalami kekurangan cairan tubuh juga perlu berhati-hati. Dehidrasi akibat diare, muntah atau kondisi lain dapat membuat penggunaan NSAID menjadi lebih berisiko terhadap ginjal.

National Kidney Foundation mengingatkan bahwa bahkan ginjal yang sebelumnya sehat dapat mengalami masalah apabila obat pereda nyeri digunakan dalam dosis tinggi atau dalam jangka panjang.

Seorang tenaga kesehatan tentu perlu melihat kondisi setiap pasien sebelum menentukan obat yang paling sesuai. Karena itu, penggunaan obat secara berulang sebaiknya tidak hanya didasarkan pada pengalaman sebelumnya.

Apakah Minum Obat Pereda Nyeri Sesekali Berbahaya?

Pertanyaan ini sering muncul karena banyak orang langsung khawatir setelah mengetahui hubungan antara obat pereda nyeri dan ginjal.

Secara umum, risiko tidak dapat disamakan antara penggunaan sesekali sesuai aturan dengan konsumsi dosis tinggi atau penggunaan berkepanjangan.

National Kidney Foundation menyebut obat pereda nyeri dapat digunakan secara aman jika mengikuti petunjuk, tetapi penggunaan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko terhadap ginjal.

Karena itu, prinsip yang perlu diingat bukan sekadar menghindari semua obat pereda nyeri, melainkan menggunakan obat sesuai kebutuhan dan petunjuk.

“Gunakan pada dosis terendah yang efektif dan dalam waktu sesingkat mungkin,” demikian prinsip keamanan penggunaan obat pereda nyeri yang ditekankan National Kidney Foundation.

Jika rasa sakit terus muncul atau membutuhkan obat berulang kali, persoalannya sebaiknya tidak hanya ditangani dengan terus menambah konsumsi obat. Penyebab nyeri perlu dicari agar pengobatannya lebih tepat.

Gejala Gangguan Ginjal Tidak Selalu Terlihat

Salah satu hal yang membuat penggunaan obat pereda nyeri perlu diperhatikan adalah gangguan fungsi ginjal tidak selalu langsung menimbulkan keluhan yang jelas.

Seseorang dapat merasa baik-baik saja meskipun fungsi ginjalnya mulai mengalami perubahan. Karena itu, orang yang berisiko atau menggunakan obat tertentu dalam jangka panjang sebaiknya mendiskusikan penggunaannya dengan dokter atau apoteker.

Pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui kondisi ginjal. National Kidney Foundation menyebut pemeriksaan kreatinin darah dapat digunakan untuk memperkirakan fungsi penyaringan ginjal melalui nilai eGFR. Pemeriksaan urine juga dapat membantu melihat adanya protein dalam urine yang dapat menjadi petunjuk gangguan ginjal.

Dengan demikian, jangan menunggu munculnya keluhan berat sebelum memeriksa kesehatan ginjal, terutama jika seseorang memiliki faktor risiko.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Minum Obat Nyeri

Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah menganggap obat yang dijual bebas selalu aman dalam jumlah berapa pun.

Obat bebas tetap mempunyai dosis maksimal dan aturan penggunaan. Mengonsumsi lebih banyak dengan harapan nyeri lebih cepat hilang justru dapat meningkatkan risiko efek samping.

Kesalahan lainnya adalah menggabungkan beberapa obat tanpa memeriksa bahan aktifnya. Dua produk berbeda bisa saja mengandung bahan aktif yang sama atau berasal dari kelompok obat yang memiliki risiko serupa.

NIDDK menyarankan masyarakat menyimpan daftar obat yang sedang dikonsumsi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai obat bebas, obat resep maupun suplemen yang digunakan.

Baca Juga  Asam Urat Tinggi, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya Sebelum Menimbulkan Komplikasi

Kebiasaan tersebut menjadi semakin penting bagi orang yang mempunyai penyakit ginjal atau kondisi lain yang dapat memengaruhi fungsi ginjal.

Bagaimana Cara Lebih Aman Menggunakan Obat Pereda Nyeri?

Langkah pertama adalah membaca aturan pakai pada kemasan. Jangan melebihi dosis yang tercantum dan jangan memperpanjang penggunaan tanpa alasan medis yang jelas.

Jika obat digunakan berulang karena nyeri tidak kunjung membaik, sebaiknya konsultasikan penyebabnya. Dokter atau apoteker dapat membantu menentukan pilihan obat yang lebih sesuai dengan kondisi seseorang.

Perhatikan pula kondisi tubuh ketika sedang sakit. Jika mengalami muntah atau diare dan berisiko mengalami dehidrasi, jangan sembarangan mengonsumsi NSAID. NIDDK menyarankan pasien mendiskusikan terlebih dahulu obat apa yang aman digunakan ketika sedang mengalami kondisi yang dapat menyebabkan kekurangan cairan.

Untuk orang yang sudah mempunyai gangguan fungsi ginjal, pilihan obat pereda nyeri juga perlu disesuaikan. National Kidney Foundation menyebut acetaminophen sebagai salah satu pilihan yang secara umum lebih aman bagi ginjal pada dosis yang dianjurkan, tetapi penggunaannya tetap harus mengikuti petunjuk dan mempertimbangkan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Artinya, tidak tepat jika seseorang mengganti obat sendiri hanya berdasarkan informasi dari internet tanpa mengetahui kondisi medisnya.

Jangan Menunggu Ginjal Bermasalah

Obat pereda nyeri memang membantu mengatasi keluhan dan dalam banyak kondisi diperlukan. Namun, manfaat tersebut perlu diimbangi dengan penggunaan yang bijak.

Risiko terhadap ginjal terutama menjadi perhatian ketika NSAID digunakan dalam dosis tinggi, terlalu sering, dalam jangka panjang, atau ketika seseorang mengalami dehidrasi maupun sudah mempunyai gangguan ginjal.

Masyarakat tidak perlu panik setiap kali mengonsumsi obat pereda nyeri. Yang jauh lebih penting adalah mengetahui jenis obat yang diminum, mengikuti dosis, memperhatikan kondisi tubuh dan tidak menjadikan obat sebagai solusi terus-menerus untuk nyeri yang belum diketahui penyebabnya.

Jika seseorang harus mengonsumsi obat pereda nyeri secara rutin, mempunyai penyakit ginjal, diabetes, tekanan darah tinggi, atau sedang menggunakan beberapa jenis obat sekaligus, konsultasi dengan dokter atau apoteker merupakan langkah yang lebih aman.

Efek samping obat pereda nyeri terhadap ginjal sangat dipengaruhi oleh jenis obat, dosis, durasi pemakaian dan kondisi tubuh. NSAID seperti ibuprofen dan naproxen perlu mendapat perhatian khusus karena penggunaan yang tidak tepat dapat mengganggu fungsi ginjal.

Menjaga ginjal bukan berarti harus takut terhadap obat. Kuncinya adalah menggunakan obat secara tepat, tidak berlebihan dan mencari pertolongan medis ketika nyeri terus berulang.

Baca informasi kesehatan dan berita lainnya di JurnalLugas.Com.

(Wening)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait