JurnalLugas.Com — Begadang sering dianggap hanya membuat tubuh lelah dan mengantuk keesokan harinya. Namun, kebiasaan tidur terlalu larut yang membuat waktu tidur menjadi pendek ternyata juga berkaitan dengan sejumlah perubahan metabolisme tubuh, termasuk kadar asam urat.
Lantas, apakah begadang bisa meningkatkan asam urat?
Jawabannya tidak sesederhana bahwa tidur larut malam secara langsung menyebabkan asam urat naik. Yang lebih kuat didukung penelitian adalah hubungan antara kurang tidur atau durasi tidur yang terlalu pendek dengan kadar asam urat yang lebih tinggi.
Sebuah penelitian terhadap lebih dari 34 ribu orang dewasa menemukan bahwa kelompok dengan waktu tidur kurang dari tujuh jam memiliki risiko hiperurisemia sekitar 7 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan durasi tidur normal 7–8 jam setelah sejumlah faktor diperhitungkan.
Temuan lain pada lebih dari 4.500 orang dewasa juga menunjukkan hubungan antara tidur kurang dari tujuh jam dan kadar asam urat serum yang lebih tinggi. Peneliti menyimpulkan bahwa “durasi tidur pendek berkaitan dengan kadar asam urat yang lebih tinggi.”
Artinya, persoalannya bukan semata-mata seseorang tidur pukul berapa, melainkan berapa lama tubuh benar-benar mendapatkan waktu istirahat dan bagaimana pola tidur tersebut berlangsung.
Begadang dan Asam Urat, Apa Hubungannya?
Asam urat merupakan hasil akhir dari proses pemecahan purin di dalam tubuh. Dalam kondisi normal, zat tersebut dibuang terutama melalui ginjal. Ketika produksi meningkat atau pembuangannya terganggu, kadar asam urat dalam darah dapat menjadi terlalu tinggi.
Kebiasaan begadang dapat menjadi masalah ketika membuat seseorang terus-menerus tidur dalam waktu singkat.
Kurang tidur dapat berjalan bersama berbagai kebiasaan lain yang juga kurang baik untuk metabolisme, seperti pola makan tidak teratur, lebih sering mengonsumsi makanan tinggi kalori pada malam hari, kurang bergerak dan perubahan berat badan.
Karena itu, sulit mengatakan bahwa begadang sendirian adalah penyebab asam urat naik.
Penelitian justru menunjukkan hubungan yang lebih kompleks. Sebuah studi prospektif yang melibatkan 34.025 orang menemukan adanya peningkatan risiko hiperurisemia pada kelompok dengan durasi tidur pendek.
Dengan kata lain, begadang yang membuat waktu tidur menjadi terlalu sedikit patut diperhatikan, terutama jika dilakukan hampir setiap hari.
Bukan Cuma Kurang Tidur, Gangguan Tidur Juga Perlu Diperhatikan
Hubungan antara tidur dan asam urat ternyata tidak berhenti pada jumlah jam tidur.
Gangguan pernapasan saat tidur, termasuk obstructive sleep apnea (OSA), juga menjadi perhatian dalam sejumlah penelitian. Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan pernapasan berulang ketika tidur sehingga kualitas istirahat terganggu.
Penelitian pada ribuan orang menemukan adanya hubungan antara gangguan tidur dan kadar asam urat yang tinggi. Studi lain bahkan menemukan hubungan antara OSA dan peningkatan kadar asam urat.
Sementara itu, penelitian mengenai hubungan gout dengan gangguan tidur menemukan bahwa penderita gout lebih sering mengalami masalah tidur dibandingkan kelompok pembanding. Namun, penelitian tersebut juga menekankan bahwa hubungan sebab-akibat masih perlu diteliti lebih lanjut.
Jadi, jika seseorang sering mendengkur keras, terbangun berulang kali, merasa seperti kehabisan napas ketika tidur atau tetap mengantuk berat pada siang hari meski sudah tidur, persoalannya mungkin bukan sekadar kebiasaan begadang.
Apakah Tidur Lebih Lama Berarti Asam Urat Pasti Turun?
Tidak juga.
Durasi tidur tidak dapat dijadikan satu-satunya cara untuk mengendalikan kadar asam urat. Penelitian mengenai hubungan tidur dan hiperurisemia menghasilkan temuan yang cukup beragam.
Salah satu penelitian menemukan bahwa tambahan satu jam waktu tidur berkaitan dengan kadar asam urat yang lebih rendah pada kelompok lansia dengan kelebihan berat badan atau sindrom metabolik.
Namun, penelitian lain menggunakan pendekatan genetik untuk melihat hubungan sebab-akibat menemukan pola yang lebih kompleks. Temuan tersebut mendukung kemungkinan bahwa tidur terlalu pendek memiliki hubungan kausal dengan hiperurisemia pada perempuan, sementara hubungan tersebut tidak ditemukan secara signifikan pada laki-laki.
Karena itu, tidur cukup sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pola hidup sehat, bukan sebagai obat tunggal untuk menurunkan asam urat.
Kebiasaan Malam Hari yang Sebaiknya Diperhatikan
Bagi orang yang khawatir dengan kadar asam urat, memperbaiki jam tidur saja belum cukup.
Pola makan tetap memiliki peran penting. Konsumsi makanan tertentu yang tinggi purin, minuman beralkohol, minuman manis berlebihan, kelebihan berat badan serta kondisi kesehatan tertentu dapat memengaruhi kadar asam urat.
Kebiasaan tidur larut malam juga sering membuat seseorang makan lebih malam atau mengonsumsi camilan ketika seharusnya tubuh beristirahat. Pola seperti ini bisa membuat kebiasaan hidup menjadi semakin tidak teratur.
Karena itu, langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah menjaga jadwal tidur lebih konsisten, menghindari kebiasaan tidur terlalu sedikit, memperhatikan pola makan dan tetap aktif bergerak.
Bagi orang yang sudah pernah mengalami serangan gout atau memiliki kadar asam urat tinggi, pemeriksaan laboratorium dan konsultasi dengan tenaga medis tetap lebih penting daripada hanya mengandalkan perubahan jam tidur.
Jadi, Apakah Begadang Bisa Membuat Asam Urat Naik?
Begadang tidak bisa disebut sebagai penyebab langsung asam urat tinggi. Namun, kebiasaan begadang yang menyebabkan kurang tidur memiliki hubungan dengan meningkatnya kadar asam urat dan risiko hiperurisemia dalam sejumlah penelitian.
Karena itu, jika tidur hanya beberapa jam setiap malam dan dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele.
Tidur yang cukup, pola makan seimbang, berat badan yang terjaga dan aktivitas fisik merupakan bagian dari kebiasaan yang lebih sehat untuk membantu menjaga metabolisme tubuh.
Jika muncul nyeri hebat dan mendadak pada persendian, terutama disertai bengkak, kemerahan atau rasa panas, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya hanya karena begadang. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan gout atau kondisi lainnya.
Pada akhirnya, tidur bukan satu-satunya penentu kadar asam urat, tetapi kurang tidur yang berlangsung terus-menerus layak menjadi salah satu kebiasaan yang diperbaiki.
JurnalLugas.Com
JurnalLugas.Com
(Wening)






