Perbedaan Gula Darah Puasa, Sewaktu, dan HbA1c Perlu Dipahami

JurnalLugas.Com — Pemeriksaan gula darah sering menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan, terutama untuk mengetahui risiko diabetes. Namun, tidak semua pemeriksaan gula darah memberikan gambaran yang sama.

Ada gula darah puasa, gula darah sewaktu, hingga HbA1c. Ketiganya sama-sama berkaitan dengan kadar glukosa, tetapi waktu pemeriksaan, cara membaca hasil, dan informasi yang diberikan berbeda.

Bacaan Lainnya

Memahami perbedaan tersebut penting agar hasil pemeriksaan tidak disalahartikan.

Gula Darah Puasa

Gula darah puasa atau GDP merupakan pemeriksaan kadar glukosa setelah seseorang tidak mendapatkan asupan kalori selama setidaknya sekitar delapan jam. Pemeriksaan biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum sarapan.

Pemeriksaan ini memberikan gambaran mengenai kadar gula darah ketika tubuh berada dalam kondisi puasa. Karena itu, hasilnya tidak secara langsung dipengaruhi oleh makanan yang baru saja dikonsumsi.

Secara umum, kadar gula darah puasa di bawah 100 mg/dL masuk dalam kisaran normal. Nilai 100–125 mg/dL dapat menunjukkan kondisi pradiabetes, sedangkan kadar 126 mg/dL atau lebih merupakan salah satu kriteria yang digunakan dalam diagnosis diabetes.

Namun, satu hasil pemeriksaan yang tinggi tidak selalu berarti seseorang langsung dapat menyimpulkan dirinya menderita diabetes. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan ulang dan kondisi klinis pasien sebelum menetapkan diagnosis.

Gula Darah Sewaktu

Berbeda dengan gula darah puasa, pemeriksaan gula darah sewaktu atau GDS dapat dilakukan kapan saja tanpa harus berpuasa terlebih dahulu.

Tes ini dapat memberikan gambaran kadar glukosa pada saat pemeriksaan dilakukan. Karena waktunya tidak ditentukan oleh kondisi puasa, hasilnya dapat dipengaruhi oleh makanan, minuman, aktivitas, maupun kondisi tubuh saat itu.

Baca Juga  Penyebab Gula Darah Sulit Turun Meski Sudah Diet, Ternyata Bukan Hanya Karena Makanan Manis

Gula darah sewaktu mencapai 200 mg/dL atau lebih dapat menjadi kriteria diagnosis diabetes apabila disertai gejala klasik diabetes atau kondisi hiperglikemia tertentu.

Karena itu, angka gula darah sewaktu sebaiknya tidak dibaca sendirian. Waktu makan terakhir dan kondisi seseorang ikut menjadi bagian penting dalam menilai hasilnya.

HbA1c Memberikan Gambaran yang Lebih Panjang

HbA1c memiliki karakter berbeda dari pemeriksaan gula darah puasa dan sewaktu. Tes ini mengukur persentase hemoglobin yang berikatan dengan glukosa sehingga dapat memberikan gambaran rata-rata kadar gula darah selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir.

Salah satu keunggulan HbA1c adalah pemeriksaan ini tidak mengharuskan seseorang berpuasa. Hasilnya juga tidak menggambarkan perubahan gula darah yang hanya terjadi sesaat.

Secara umum, HbA1c di bawah 5,7 persen berada dalam kisaran normal, 5,7–6,4 persen termasuk rentang pradiabetes, sedangkan 6,5 persen atau lebih merupakan salah satu kriteria diabetes.

Sederhananya, gula darah puasa menggambarkan kondisi tubuh saat tidak mendapat asupan makanan, gula darah sewaktu menunjukkan kondisi pada saat pemeriksaan, sedangkan HbA1c memberikan gambaran rata-rata kadar gula dalam beberapa bulan terakhir.

Mengapa Ketiganya Bisa Memberikan Hasil Berbeda?

Hasil pemeriksaan gula darah seseorang tidak selalu sama pada setiap waktu. Kadar glukosa dapat berubah karena makanan, aktivitas fisik, obat-obatan, stres, maupun kondisi kesehatan tertentu.

Seseorang bisa saja mendapatkan hasil gula darah sewaktu yang tinggi setelah makan, sementara pemeriksaan lain pada kondisi berbeda menunjukkan angka yang lebih rendah.

Begitu pula HbA1c dapat memberikan gambaran jangka panjang yang tidak selalu sama dengan satu kali pemeriksaan gula darah.

Baca Juga  Kasus Korupsi Gula Rp578 Miliar Tom Lembong Siap Terima Putusan Hakim

Karena itu, pemeriksaan gula darah sebaiknya dipahami sebagai bagian dari penilaian kesehatan secara keseluruhan, bukan sekadar melihat satu angka.

Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa pemeriksaan kadar gula darah penting untuk skrining, mengetahui kondisi diabetes, dan memantau pengendalian gula darah.

Mana yang Paling Penting?

Tidak tepat menyebut salah satu pemeriksaan sebagai yang paling penting untuk semua orang. Pemilihannya bergantung pada tujuan pemeriksaan dan kondisi masing-masing.

Gula darah puasa berguna untuk melihat kadar glukosa setelah berpuasa. Gula darah sewaktu dapat digunakan ketika pemeriksaan perlu dilakukan tanpa menunggu kondisi puasa. Sementara HbA1c membantu melihat gambaran pengendalian gula darah dalam periode yang lebih panjang.

Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat meminta pemeriksaan lain, seperti tes toleransi glukosa oral, untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan mendiagnosis diabetes hanya berdasarkan satu angka dari alat pengukur gula darah di rumah. Pemeriksaan untuk diagnosis diabetes umumnya membutuhkan metode laboratorium yang sesuai dan penilaian tenaga kesehatan.

Memahami perbedaan gula darah puasa, gula darah sewaktu, dan HbA1c pada akhirnya membantu seseorang membaca hasil pemeriksaan dengan lebih tepat.

Angka yang terlihat sederhana sebenarnya memiliki konteks berbeda, sehingga interpretasinya perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan tujuan pemeriksaan.

Untuk informasi kesehatan lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.

(Wening)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait