279 Pelajar Berastagi Keracunan Usai Santap MBG, Ini Respon Dinkes Sumut

JurnalLugas.Com, Karo — Dugaan keracunan massal kembali terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 279 pelajar di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami gejala kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Jumlah tersebut merupakan hasil penelusuran sementara yang dilakukan Dinas Kesehatan Sumatera Utara setelah menerima laporan mengenai kondisi para siswa.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumut, Mizwar, membenarkan jumlah pelajar yang terdampak mencapai 279 orang.

“Data sementara mencatat 279 siswa terdampak,” kata Mizwar kepada JurnalLugas.Com, Kamis, 13 Agustus 2026.

Para pelajar yang mengalami keluhan tersebut berasal dari tiga sekolah di kawasan Berastagi. Mereka merupakan siswa SMP Swasta Bersama, SMA Swasta Bersama, dan SMAN 1 Berastagi.

Setelah mengalami gejala, para siswa mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan. Tiga rumah sakit yang menjadi lokasi perawatan adalah RSU Kabanjahe, RS Efarina, dan RS Amanda.

Dinas Kesehatan Sumut kini tidak hanya fokus pada penanganan para pelajar, tetapi juga menelusuri sumber munculnya gangguan kesehatan tersebut.

Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan apakah makanan MBG memang menjadi penyebab atau terdapat faktor lain yang memicu gejala secara bersamaan.

Menariknya, makanan yang dibagikan kepada para siswa diketahui berasal dari dapur MBG yang telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikat tersebut menjadi salah satu persyaratan dalam pengelolaan layanan penyediaan makanan.

Namun, keberadaan sertifikat tidak serta-merta menutup kemungkinan adanya persoalan pada proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, maupun penanganan makanan sebelum dikonsumsi.

Karena itu, sampel makanan telah diamankan dan dikirim ke laboratorium untuk menjalani pemeriksaan.

Hasil pengujian nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai penyebab munculnya gejala yang dialami ratusan pelajar tersebut.

Mizwar menegaskan pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting dari proses penelusuran kasus. Dengan pengujian tersebut, pihak berwenang dapat memastikan apakah terdapat kontaminasi atau persoalan lain pada makanan yang dikonsumsi siswa.

Kasus di Berastagi menjadi perhatian karena jumlah pelajar yang terdampak cukup besar. Penanganan tidak hanya membutuhkan respons cepat terhadap siswa yang mengalami keluhan, tetapi juga pemeriksaan menyeluruh terhadap rantai penyediaan makanan.

Mulai dari bahan baku, proses memasak, kondisi dapur, penyimpanan, waktu distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa menjadi bagian yang penting untuk ditelusuri.

Pemerintah daerah bersama instansi kesehatan juga perlu memastikan kondisi seluruh pelajar yang menjalani perawatan terus dipantau. Pendataan korban menjadi penting agar tidak ada siswa yang mengalami gejala namun belum mendapatkan pemeriksaan medis.

Di sisi lain, hasil laboratorium akan menjadi penentu penting dalam mengungkap penyebab kejadian tersebut. Sampai hasil pemeriksaan keluar, dugaan bahwa makanan MBG menjadi sumber keracunan belum dapat dipastikan.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keamanan pangan dalam program MBG harus menjadi perhatian utama.

Sertifikasi kelayakan higiene perlu diikuti dengan pengawasan konsisten di setiap tahapan agar makanan yang diterima pelajar benar-benar aman dikonsumsi.

Masyarakat kini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala pada 279 pelajar di Berastagi tersebut.

Informasi terbaru mengenai MBG, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan berbagai peristiwa nasional dapat diikuti melalui JurnalLugas.Com.

(Agus Sitorus)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Kang Dadan Berompi Pink Digiring ke Tahanan Kejagung Pasang Wajah Sedih

Pos terkait