Siswi SMK Negeri 1 Berastagi Dirawat Intensif Usai Keracunan MBG, 353 Siswa Terdampak

JurnalLugas.Com — Seorang siswi SMK Negeri 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, harus menjalani perawatan intensif setelah mengalami kondisi serius yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Siswi tersebut dirujuk ke RSU Haji Medan pada Kamis, 13 Agustus 2026, setelah mengalami nyeri perut hebat yang kemudian disertai penurunan kesadaran.

Bacaan Lainnya

Direktur RSU Haji Medan Yulinda Elvi Nasution mengatakan kondisi pasien menjadi perhatian tim medis karena keluhan nyeri muncul berulang dengan intensitas cukup berat. Pasien kini ditempatkan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) untuk mendapatkan pemantauan lebih ketat.

Menurut Yulinda, pasien sempat terus mengerang kesakitan ketika tiba di rumah sakit. Tim dokter kemudian memberikan obat untuk membantu meredakan nyeri yang dialaminya.

“Nyeri perutnya sangat kuat dan berulang, sehingga perlu penanganan serta pemantauan intensif,” ujar Yulinda dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/8/2026).

Tim medis RSU Haji Medan juga masih melakukan pemeriksaan lanjutan guna mengetahui perkembangan kondisi pasien. Pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu langkah yang dilakukan sebelum dokter menentukan penanganan berikutnya.

Yulinda menjelaskan, hasil pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk melihat kondisi pasien secara lebih menyeluruh. Tim medis masih menunggu perkembangan hasil laboratorium terbaru.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution memastikan pemerintah daerah tetap mengawal penanganan siswi tersebut. Saat menjenguk pasien pada Jumat (14/8/2026), Bobby menyampaikan harapan agar siswi tersebut dapat kembali pulih sepenuhnya.

Pemerintah, kata Bobby, juga akan berkoordinasi dengan keluarga dan tim dokter selama proses perawatan berlangsung. Berdasarkan perkiraan awal dokter, pasien masih membutuhkan beberapa hari untuk menjalani pemulihan.

Kasus ini menjadi perhatian setelah dugaan gangguan kesehatan dialami ratusan pelajar di Berastagi pada hari yang sama. Siswa dari tiga sekolah, yakni SMA Negeri 1 Berastagi, SMK Negeri 1 Berastagi, dan SMA Bersama Berastagi, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program MBG.

Jumlah siswa yang diduga terdampak mencapai 353 orang.

Keluhan yang muncul cukup beragam, mulai dari mual, muntah, pusing hingga tubuh terasa lemas. Para siswa kemudian mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RS Efarina Berastagi, RSU Amanda Berastagi, Rumah Sakit Umum Kabanjahe, dan Puskesmas Berastagi.

Kepala UPT Dinas Pendidikan Sumatera Utara Cabang Kabanjahe Zulkarnain Barus sebelumnya membenarkan adanya kejadian tersebut. Saat penanganan berlangsung, pihaknya masih berada di lokasi untuk membantu menangani kondisi para siswa.

“Peristiwa tersebut memang terjadi dan penanganan langsung dilakukan di lokasi,” kata Zulkarnain.

Meski jumlah siswa yang mengalami keluhan kemudian diketahui mencapai ratusan orang, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan.

Pemeriksaan terhadap makanan dan kondisi para siswa masih menjadi bagian penting untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.

Karena itu, dugaan keracunan makanan MBG belum dapat langsung disimpulkan sebagai penyebab tunggal sebelum hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan dari pihak terkait keluar.

Kasus Berastagi juga kembali menyoroti pentingnya pengawasan dalam pelaksanaan program MBG, terutama menyangkut keamanan makanan sebelum dikonsumsi para siswa.

Mulai dari proses pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga makanan diterima dan disantap di sekolah menjadi rangkaian yang perlu diperiksa secara menyeluruh.

Bagi pasien yang masih menjalani perawatan intensif, perhatian utama saat ini adalah memastikan kondisi kesehatan terus dipantau sampai stabil.

Pemerintah daerah dan tenaga medis juga diharapkan terus memberikan informasi perkembangan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program makanan bergizi untuk pelajar tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga harus dibarengi standar keamanan pangan yang ketat.

Setiap dugaan kejadian luar biasa setelah konsumsi makanan perlu ditelusuri secara hati-hati agar penyebabnya dapat diketahui dan kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Informasi mengenai perkembangan kasus dan hasil pemeriksaan laboratorium selanjutnya akan menjadi dasar penting untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa di Berastagi.

Baca berita terbaru dan informasi aktual lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

(Soefriyanto)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Menteri LH Jumhur Hidayat Menangis Bela MBG, Orang Lapar Jangan Dihina

Pos terkait