JurnalLugas.Com — Obat herbal dan jamu masih menjadi pilihan banyak masyarakat untuk menjaga kebugaran maupun meredakan berbagai keluhan.
Namun, anggapan bahwa bahan alami selalu aman bisa menjadi jebakan jika produk dikonsumsi sembarangan, terutama tanpa memperhatikan dosis, kandungan, legalitas, dan kondisi kesehatan tubuh.
Ginjal menjadi salah satu organ yang perlu diperhatikan. Organ ini bekerja menyaring limbah dari darah dan membantu menjaga keseimbangan cairan serta mineral.
Karena itu, paparan zat tertentu secara berlebihan atau kandungan yang tidak diketahui dapat menambah risiko gangguan pada fungsi ginjal.
National Kidney Foundation mengingatkan bahwa suplemen herbal tidak selalu aman. Produk tertentu dapat berinteraksi dengan obat yang sedang dikonsumsi, mengandung kontaminan seperti logam berat, bahkan memiliki bahan yang diketahui berpotensi merusak ginjal.
Bukan Berarti Semua Herbal Berbahaya
Yang perlu dipahami, persoalannya bukan semata-mata karena sebuah produk berbahan herbal. Risiko dapat muncul ketika produk digunakan tanpa pengawasan, dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, kualitasnya tidak jelas, atau ternyata mengandung bahan lain yang tidak tercantum pada kemasan.
BPOM pada 2026 kembali menemukan obat bahan alam yang mengandung bahan kimia obat (BKO) yang tidak seharusnya berada di dalam produk tersebut.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa konsumen bisa berada dalam kondisi berisiko ketika mengira produk tersebut hanya mengandung bahan alami.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen tidak cukup hanya melihat tulisan “herbal” atau “alami”. Legalitas dan informasi kandungan produk juga harus menjadi pertimbangan.
BPOM sendiri menekankan pentingnya aspek keamanan, mutu dan khasiat dalam produk obat bahan alam. Pengalaman penggunaan secara turun-temurun juga tidak otomatis menjadi bukti bahwa seluruh produk herbal aman untuk setiap orang.
Ginjal Bisa Terbebani Tanpa Disadari
Masalahnya, gangguan pada ginjal tidak selalu langsung menimbulkan keluhan yang jelas. Seseorang dapat merasa baik-baik saja meskipun fungsi ginjal mulai mengalami masalah.
Risiko semakin perlu diperhatikan oleh orang yang sudah memiliki gangguan ginjal, lanjut usia, atau sedang mengonsumsi obat tertentu. Suplemen herbal dapat berinteraksi dengan obat dan berpotensi memperburuk kondisi yang sudah ada.
Karena itu, mengonsumsi jamu atau obat herbal secara terus-menerus untuk mengatasi keluhan tertentu tanpa mengetahui penyebab penyakit bukan langkah yang bijak.
Keluhan yang tidak kunjung membaik sebaiknya tidak terus ditutupi dengan konsumsi produk herbal. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya sekaligus menentukan penanganan yang tepat.
Waspadai Produk dengan Klaim Berlebihan
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap produk yang menjanjikan hasil instan, mengklaim mampu menyembuhkan banyak penyakit sekaligus, atau tidak mencantumkan informasi produk secara jelas.
BPOM pada awal 2026 mengingatkan bahwa obat bahan alam tanpa izin edar belum melalui jaminan keamanan, mutu dan khasiat sebagaimana produk yang memenuhi ketentuan.
Promosi melalui media sosial dan marketplace juga membuat masyarakat semakin mudah menemukan produk dengan klaim yang sulit diverifikasi.
Sebelum mengonsumsi obat herbal, periksa nomor izin edar dan informasi pada kemasan. Jangan menambah dosis hanya karena merasa efeknya belum terlihat.
Jika sedang menjalani pengobatan dokter, konsultasikan terlebih dahulu sebelum menambahkan herbal atau suplemen. Langkah sederhana ini penting untuk menghindari interaksi obat dan risiko yang tidak disadari.
Pada akhirnya, kata “alami” tidak boleh dipahami sebagai jaminan mutlak bebas risiko. Menjaga ginjal bukan hanya soal memperbanyak minum atau memilih bahan herbal, tetapi juga memastikan setiap produk yang masuk ke tubuh memiliki keamanan dan penggunaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Informasi kesehatan lainnya dapat dibaca melalui JurnalLugas.Com.
(Wening)






