JurnalLugas.Com — Ureum merupakan salah satu zat sisa yang terbentuk ketika tubuh memproses protein. Zat ini kemudian dibawa melalui aliran darah menuju ginjal untuk disaring dan dikeluarkan bersama urine.
Karena proses tersebut berkaitan erat dengan kerja ginjal, pemeriksaan ureum dalam darah kerap digunakan sebagai bagian dari evaluasi fungsi ginjal. Namun, angka ureum yang meningkat tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit ginjal.
Secara sederhana, ureum adalah hasil akhir dari proses pemecahan protein di dalam tubuh. Nitrogen dari proses tersebut diubah menjadi urea di hati, kemudian dibawa darah ke ginjal untuk dibuang.
Pemeriksaan yang sering dikenal sebagai BUN (blood urea nitrogen) mengukur kadar nitrogen yang berasal dari ureum dalam darah.
Mengapa Ureum Berkaitan dengan Ginjal?
Ginjal memiliki tugas penting menyaring darah dan membuang berbagai zat sisa melalui urine. Ureum termasuk salah satu limbah metabolisme yang harus dikeluarkan dari tubuh.
Ketika kemampuan penyaringan ginjal menurun, ureum dapat lebih banyak tertahan di dalam darah. Karena itu, peningkatan kadar ureum dapat menjadi salah satu petunjuk yang mendorong dokter melakukan pemeriksaan fungsi ginjal lebih lanjut.
Namun, ureum tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan kondisi ginjal.
“BUN tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan penyakit ginjal,” demikian penjelasan National Kidney Foundation, karena hasilnya juga dapat dipengaruhi usia serta makanan dan minuman yang dikonsumsi, yang dirangkum JurnalLugas.Com Minggu 23 Agustus 2026.
Apa Arti Ureum Tinggi?
Kadar ureum yang lebih tinggi dari nilai rujukan laboratorium dapat terjadi ketika ginjal tidak bekerja optimal. Tetapi penyebabnya cukup beragam.
Dehidrasi, konsumsi protein dalam jumlah tinggi, perdarahan saluran pencernaan, obat tertentu, hingga kondisi yang memengaruhi aliran darah ke ginjal juga dapat membuat kadar BUN meningkat.
Karena itu, seseorang tidak seharusnya langsung menyimpulkan mengalami gagal ginjal hanya karena hasil ureumnya tinggi.
Dokter biasanya melihat hasil tersebut bersama pemeriksaan lain, terutama kreatinin dan estimated glomerular filtration rate (eGFR), untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kemampuan ginjal menyaring darah.
Bagaimana Jika Ureum Rendah?
Ureum yang rendah juga tidak selalu menunjukkan masalah pada ginjal. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan asupan protein yang rendah, kekurangan gizi, penyakit hati atau terlalu banyak cairan dalam tubuh.
Inilah alasan hasil pemeriksaan laboratorium sebaiknya tidak dibaca berdasarkan satu angka saja. Nilai rujukan juga dapat berbeda antara satu laboratorium dengan laboratorium lainnya.
Bagi masyarakat, hal terpenting adalah memahami bahwa ureum merupakan salah satu bagian dari pemeriksaan kesehatan ginjal, bukan penentu tunggal kondisi ginjal.
Penyakit ginjal pada tahap awal bahkan sering tidak menimbulkan gejala yang jelas sehingga pemeriksaan menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko seperti diabetes atau tekanan darah tinggi.
Jika hasil ureum berada di luar batas normal, langkah yang tepat bukan panik atau mencoba menurunkannya sendiri, melainkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar hasilnya dapat dinilai bersama pemeriksaan lain dan kondisi tubuh secara keseluruhan.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Wening)






