Trump Selat Hormuz Bisa Makin Kurang Penting, Jalur Minyak Mulai Dialihkan

JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai posisi strategis Selat Hormuz dalam perdagangan energi dunia berpotensi berubah. Menurutnya, pembangunan jaringan pipa dan sejumlah jalur distribusi baru di Timur Tengah dapat mengurangi ketergantungan terhadap selat tersebut.

Trump menyebut sejumlah proyek pipa kini tengah berjalan. Ia juga menyinggung jalur pengangkutan minyak melalui Suriah yang mulai digunakan, termasuk dengan armada truk pengangkut minyak.

Bacaan Lainnya

“Alternatif terhadap Hormuz sedang dibangun,” kata Trump kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).

Pernyataan itu muncul ketika aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan akibat ketegangan kawasan. Padahal, sebelum konflik meningkat, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut menjadi salah satu pintu utama distribusi energi dunia.

Trump sebelumnya menyatakan Selat Hormuz terbuka untuk pelayaran. Namun, situasi keamanan di kawasan masih membuat perusahaan pelayaran dan pengangkut energi menghadapi risiko lebih tinggi.

Dalam kondisi normal, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur tersebut karena itu dapat memberikan dampak luas terhadap pasokan dan harga energi global.

Jika jaringan pipa dan jalur darat baru benar-benar berkembang, arus minyak Timur Tengah dapat memiliki lebih banyak pilihan. Ketergantungan terhadap satu jalur laut strategis pun berpotensi berkurang.

Namun, pembangunan infrastruktur alternatif membutuhkan waktu dan kapasitas yang memadai. Karena itu, Selat Hormuz masih diperkirakan tetap memiliki peran penting dalam perdagangan energi, meski peta jalur pengangkutan minyak mulai berubah.

Baca berita dan informasi terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Iran Desak AS Cairkan 50 Persen Dana Beku, Jadi Syarat Utama Kesepahaman Baru

Pos terkait