JurnalLugas.Com – Harapan Amerika Serikat untuk menyelesaikan persoalan nuklir Iran melalui jalur diplomasi mulai menghadapi ketidakpastian. Menteri Energi AS Chris Wright menyebut kesepakatan baru dengan Teheran belum tentu tercapai.
Pernyataan itu disampaikan Wright pada Minggu, 6 September 2026. Menurutnya, Washington bahkan bisa mengambil langkah lebih keras dengan menghancurkan kemampuan Iran untuk mengembangkan program nuklir jika jalur perundingan tidak menghasilkan kesepakatan.
Wright menilai persoalan tersebut tidak sederhana karena perubahan politik di Iran juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan Washington. Ia menyebut kesepakatan bisa saja baru terjadi jika pemerintahan Iran berganti.
“Bisa jadi kesepakatan tidak tercapai dan kemampuan nuklir mereka harus dihancurkan,” ujar Wright secara singkat.
Di sisi lain, perhatian Amerika Serikat juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Wright mengatakan arus minyak yang melewati selat tersebut dalam rata-rata tujuh hari telah berada di atas 9 juta barel per hari.
Jika ditambah pengiriman minyak melalui jaringan pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, aliran minyak yang keluar dari kawasan Teluk disebut mencapai sekitar 13 juta hingga 14 juta barel setiap hari.
Situasi Selat Hormuz sendiri masih menjadi sumber ketegangan antara Washington dan Teheran. Kedua negara memiliki klaim berbeda mengenai kondisi keamanan serta kendali atas jalur pelayaran tersebut.
Amerika Serikat menyatakan jalur itu telah dibersihkan dari ranjau dan kapal komersial dapat melintas. Iran sebaliknya menegaskan bahwa selat tersebut belum sepenuhnya terbuka dan persoalan keamanan masih menjadi perhatian.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah memiliki nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut diarahkan untuk meredakan permusuhan, membuka kembali jalur Hormuz dan mengurangi sejumlah pembatasan ekonomi.
Namun, pelaksanaan kesepahaman itu belum sepenuhnya berjalan. Kedua pihak justru saling menuding tidak menjalankan komitmen yang telah disepakati.
Kondisi tersebut membuat isu nuklir Iran dan keamanan Selat Hormuz tetap menjadi dua persoalan besar yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan sekaligus pasar energi global.
Baca berita lainnya JurnalLugas.Com
JurnalLugas.Com
(Handoko)






