JurnalLugas.Com – Harga emas dunia kembali mengalami tekanan setelah pasar mulai meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan perubahan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.
Pada perdagangan Selasa, 8 September 2026, harga emas spot turun 1,14 persen menjadi USD4.355,70 per troy ons.
Penurunan tersebut terjadi ketika harga minyak mentah ikut menguat dan memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi.
Kondisi itu membuat investor kembali menghitung kemungkinan kebijakan moneter The Fed pada September.
Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang sebelumnya menunjukkan pasar kerja masih cukup kuat turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga yang diperhitungkan pasar meningkat menjadi sekitar 60 persen, dari sebelumnya sekitar 50 persen setelah data ketenagakerjaan AS dirilis.
Tekanan terhadap emas juga terlihat pada perdagangan Jumat, 4 September 2026. Harga emas spot sempat merosot hingga 2,4 persen setelah data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS pada Agustus lebih kuat dari perkiraan.
Pasar kini menunggu sejumlah data inflasi AS yang dinilai penting untuk membaca langkah The Fed berikutnya. Data Producer Price Index (PPI) dijadwalkan keluar lebih dahulu, disusul Consumer Price Index (CPI).
Kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga.
Karena itu, semakin besar peluang suku bunga bertahan tinggi atau naik, daya tarik emas sebagai aset investasi dapat ikut tertekan.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak hingga mendekati USD100 per barel menambah kekhawatiran mengenai inflasi.
Situasi ini membuat arah harga emas dalam waktu dekat sangat bergantung pada data ekonomi AS dan ekspektasi pasar terhadap keputusan The Fed.
Investor kini menunggu apakah data inflasi akan memperkuat atau justru mengurangi kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga.
Baca berita ekonomi dan pasar lainnya di JurnalLugas.Com.
(Hans)






