Netanyahu Klaim Israel Kuasai Wilayah Suriah, Janji Gulingkan Pemerintah Iran

JurnalLugas.Com — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali melontarkan pernyataan keras terkait keberadaan militer Israel di wilayah Suriah. Dalam kunjungannya ke pasukan Israel pada Rabu, 9 September 2026, Netanyahu mengklaim negaranya kini memiliki kendali penuh atas wilayah strategis di Suriah selatan.

Dalam video yang dirilis kantornya pada Kamis, 10 September 2026, Netanyahu menyebut wilayah yang berada dalam jangkauan Israel membentang dari kawasan Gunung Hermon hingga Sungai Yarmouk.

Bacaan Lainnya

Menurut Netanyahu, posisi tersebut memberikan Israel tingkat kendali yang sebelumnya belum pernah dimiliki. Ia juga menegaskan bahwa Israel tidak akan membiarkan kelompok yang disebutnya sebagai pasukan teroris membangun kekuatan di dekat perbatasan.

Baca Juga  Iran Tegas Bantah Negosiasi dengan AS, Pilih Gandeng Oman Buka Jalur Aman Selat Hormuz

Kunjungan tersebut dilakukan Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz dan Wakil Kepala Staf Tamir Yadai. Dalam kesempatan itu, Netanyahu juga menyampaikan bahwa Israel semakin dekat dengan tujuan untuk mengalahkan pemerintahan Iran.

“Kami sangat dekat,” kata Netanyahu, seraya menegaskan komitmennya untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Kehadiran militer Israel di Suriah selatan menjadi persoalan yang terus memicu ketegangan. Pasukan Israel masuk ke zona penyangga yang berada di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta sejumlah wilayah lainnya setelah pemerintahan Bashar al-Assad jatuh pada Desember 2024.

Sejak saat itu, pasukan Israel tetap berada di kawasan tersebut. Pemerintah Suriah berulang kali meminta Israel menarik pasukannya dari wilayah Suriah.

Persoalan tersebut semakin mendapat sorotan setelah sebuah komisi PBB menyatakan bahwa penguatan kehadiran militer Israel di Suriah selatan dapat dikategorikan sebagai bentuk pendudukan oleh pihak yang bertikai atau belligerent occupation. Komisi tersebut juga menyebut sejumlah tindakan Israel di kawasan itu berpotensi masuk kategori kejahatan perang.

Israel menolak kesimpulan tersebut. Pemerintah Israel menyatakan keberadaan pasukannya diperlukan sebagai langkah keamanan dan bersifat sementara.

Pernyataan terbaru Netanyahu menunjukkan bahwa persoalan wilayah Suriah selatan tidak hanya berkaitan dengan keamanan perbatasan, tetapi juga telah menjadi bagian dari pertarungan geopolitik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Klaim penguasaan wilayah dan ancaman terhadap pemerintah Iran berpotensi kembali memperbesar ketegangan regional.

Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait