JurnalLugas.Com – Serangan kelompok Houthi terhadap Bandara Riyadh, Arab Saudi, memicu kecaman Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Insiden yang menewaskan warga dari sejumlah negara itu dinilai sebagai eskalasi berbahaya yang berpotensi memperluas ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Von der Leyen menyampaikan kecaman tersebut melalui platform X pada Minggu, 11 Oktober 2026. Ia menilai serangan terbaru itu sebagai serangan paling mematikan terhadap fasilitas bandara tersebut sejauh ini.
“Serangan paling mematikan Houthi di Bandara Riyadh menunjukkan eskalasi berbahaya,” ujar von der Leyen.
Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan, sekaligus menyatakan solidaritas kepada Arab Saudi dan masyarakatnya.
Bagi Uni Eropa, serangan terhadap bandara tidak hanya menyangkut keselamatan warga sipil. Gangguan terhadap fasilitas penerbangan juga dapat merambat ke jaringan transportasi internasional, terutama ketika ketegangan regional meningkat.
Von der Leyen menuding kelompok Houthi yang disebutnya sebagai proksi Iran turut memperburuk situasi keamanan di kawasan tersebut.
Menurut dia, rangkaian serangan itu mendorong Timur Tengah semakin dekat dengan lingkaran kekerasan yang lebih luas.
Korban dari Berbagai Negara, Operasional Bandara Sempat Dihentikan
Dampak serangan di Bandara Riyadh terlihat dari beragam kewarganegaraan korban. Berdasarkan keterangan otoritas penerbangan sipil Arab Saudi dalam bahan laporan, korban meninggal terdiri atas empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Sejumlah korban luka masih menjalani perawatan di rumah sakit. Beberapa di antaranya dilaporkan berada dalam kondisi kritis.
Komposisi korban tersebut menunjukkan bahwa insiden di fasilitas penerbangan internasional dapat berdampak langsung terhadap warga dari berbagai negara, bukan hanya masyarakat di negara tempat serangan berlangsung.
Setelah serangan terjadi, operasional bandara dihentikan sementara. Langkah itu diambil untuk memberi kesempatan kepada petugas terkait menilai kerusakan sekaligus memastikan keamanan fasilitas sebelum kegiatan penerbangan dilanjutkan.
Penghentian tersebut turut mengganggu perjalanan udara. Penumpang diminta memeriksa informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara agar dapat mengetahui perubahan jadwal maupun kemungkinan gangguan penerbangan.
Belum ada rincian lebih lanjut dalam bahan laporan mengenai besarnya kerusakan fasilitas ataupun durasi penghentian operasional bandara.
Von der Leyen turut memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur strategis dapat menimbulkan konsekuensi yang melampaui lokasi kejadian.
Ia menyoroti posisi fasilitas transportasi dan energi dalam menopang aktivitas ekonomi internasional. Ketika simpul penting tersebut terganggu, dampaknya dapat menjalar ke konektivitas penerbangan, distribusi barang, hingga kegiatan ekonomi yang bergantung pada kelancaran transportasi.
“Gangguan terhadap simpul transportasi dan energi global dapat menimbulkan dampak berantai di seluruh dunia,” kata von der Leyen dalam pernyataannya.
Peringatan tersebut menempatkan serangan di Riyadh dalam konteks keamanan yang lebih luas. Bandara merupakan fasilitas penting bagi mobilitas manusia dan barang, sedangkan infrastruktur energi memiliki peran strategis dalam menjaga pasokan dan aktivitas ekonomi.
Namun, besarnya dampak internasional dari insiden ini masih bergantung pada tingkat kerusakan, lamanya gangguan operasional, serta kemungkinan terjadinya serangan lanjutan.
Von der Leyen menyerukan agar kekerasan yang menyasar warga sipil segera dihentikan. Seruan itu menegaskan perhatian Uni Eropa terhadap keselamatan masyarakat di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Serangan di Bandara Riyadh terjadi ketika Arab Saudi menghadapi rangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak yang dikaitkan dengan kelompok Houthi dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah bandara dan fasilitas di negara tersebut dilaporkan menjadi sasaran.
Perkembangan itu menambah tekanan terhadap keamanan infrastruktur sipil. Selain menimbulkan korban jiwa, serangan berulang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan ketidakpastian bagi sektor penerbangan.
Di tingkat diplomatik, kecaman von der Leyen menunjukkan bahwa insiden tersebut turut menjadi perhatian Eropa. Meski demikian, pernyataan kecaman itu belum dengan sendirinya menjelaskan langkah lanjutan yang akan diambil Uni Eropa untuk merespons serangan tersebut.
Perhatian kini tertuju pada penanganan korban, pemeriksaan kerusakan, pemulihan operasional bandara, serta perkembangan situasi keamanan di Arab Saudi.
Serangan yang menewaskan warga dari berbagai negara itu sekaligus memperlihatkan besarnya risiko ketika fasilitas sipil terseret dalam konflik bersenjata.
Penghentian kekerasan dan perlindungan terhadap warga sipil menjadi tuntutan mendesak di tengah kekhawatiran bahwa ketegangan regional dapat terus meluas.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Handoko)






