JurnalLugas.Com – Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) merosot pada perdagangan kemarin, tetap terjebak dalam tren negatifnya.
Pada Kamis (9/5/2024), harga CPO di Bursa Malaysia untuk kontrak pengiriman Juli ditutup di MYR 3.830/ton, mengalami penurunan sebesar 1,01%, mencapai titik terendah dalam seminggu terakhir.
Selama dua hari terakhir, harga CPO telah mengalami penurunan selama 2,54%, memperpanjang tren turunnya.
Dalam satu minggu terakhir, penurunan harga CPO mencapai 0,36%, sementara selama satu bulan terakhir, harga merosot hingga 10,49%.
Menurunnya permintaan menjadi salah satu penyebab utama penurunan harga CPO.
Otoritas Kepabeanan China melaporkan penurunan impor minyak nabati pada bulan April sebesar 7,79% dibandingkan bulan sebelumnya, bahkan merosot 25,5% dibandingkan dengan April tahun sebelumnya.
Selain itu, penurunan harga minyak nabati lainnya juga mempengaruhi harga CPO.
Kemarin, harga minyak kedelai di Dalian (China) turun 1,36% dan di Chicago Board of Trade (Amerika Serikat) turun 0,16%.
Ketika harga minyak kedelai lebih rendah, minyak kelapa sawit menjadi kurang menarik, karena keduanya memiliki sifat yang saling menggantikan.
Dari segi analisis teknikal, CPO masih terperangkap dalam zona bearish.
Indeks Kekuatan Relatif (RSI) berada pada 36,3, menunjukkan bahwa aset tersebut sedang dalam posisi bearish.
Indikator Stochastic RSI berada di 49,95, sedikit di bawah 50 yang menandakan posisi yang cenderung netral.
Meskipun demikian, koreksi yang cukup signifikan memberikan peluang bagi harga CPO untuk memperoleh kenaikan.
Target resisten terdekat berada di MYR 3.857/ton, dan jika berhasil ditembus, maka target selanjutnya adalah MYR 3.891/ton.
Sementara itu, target support terdekat adalah MYR 3.793/ton. Penembusan di titik ini berpotensi membawa harga CPO turun lebih rendah menuju MYR 3.776/ton.






